MARKET DATA

CSIS Ungkap Dana Asing Bisa Minggat dari RI Gara-Gara Hal Ini

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
08 January 2026 07:25
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana asing terancam minggat dari pasar keuangan Indonesia pada 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang datang dari ketidakpastian ekonomi dunia.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan mengatakan ketidakpastian ekonomi global akan membuat pasar keuangan menjadi volatil sehingga akan mempengaruhi tren aliran dana investor asing di Indonesia. Ujung-ujungnya akan melemahkan rupiah.

"Nah, yang dikhawatirkan adalah seperti yang terjadi di tahun kemarin kita mengalami sudden capital outflow yang besar. Baik itu di pasar bond market ataupun di stock market dan itu berimplikasi pada nilai tukar rupiah yang nantinya berimplikasi pada cost of borrowing dari SBN kita," katanya saat acara Media Briefing: "Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik" pada Rabu (7/1/2026).

Deni menjelaskan kondisi ekonomi global itu masih akan slowdown di tahun 2026 karena mesin-mesin pertumbuhan di dunia ini, terutama China dan Amerika, itu mengalami perlambatan.

"China misalnya mengalami deflasi, walaupun misalnya angka officialnya mengatakan 5%, tapi banyak orang melakukan, apakah benar 5%? Karena perkiraan mungkin hanya sekitar 2%. Begitu juga Amerika. Dia menghadapi tekanan dari public debt yang besar dan defisit anggaran yang besar. Itu juga membuat tekanan inflasi di sana juga besar," ucapnya.

Ia juga menyoroti konflik geopolitik terbaru oleh AS dengan Venezuela usai Presiden Donald Trump dengan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro meningkatkan tensi geopolitik dan juga risiko instabilitas ekonomi dunia.

"Kita hari-hari ini melihat ada peningkatan geopolitical risk eskalasi dari misalnya US attack di Venezuela. Itu juga menimbulkan instabilitas di dunia dari sisi geopolitik," ucapnya.

Ketegangan geopolitik yang baru ini semakin memperbanyak katalis negatif untuk pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026. Katalis lain diungkap Deni seperti tekanan public debt besar Amerika Serikat, tarif resiprokal yang diterapkan Trump, larangan ekspor rare earth oleh China, larangan ekspor chip maker di Eropa, dan Inggris serta Jerman yang menghadapi tekanan fiskal.

"Jadi, semua itu berimplikasi bahwa perekonomian dunia, pertumbuhan di tahun 2026 akan sangat gloomy, akan lebih slowdown," tegas Deni.

Dalam proyeksi terbaru mereka, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026 di edisi Oktober. Sementara Bank Dunia dan OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan dibawah ramalan IMF, yakni 2,4% dan 2,9%.

(ras/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Ambruk, Asing Tarik Dana Rp 2,16 Triliun dari Saham RI


Most Popular
Features