MARKET DATA

Saran Investasi dari Warren Buffett Saat Harga Saham Turun

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
06 January 2026 10:30
Benjamin Graham
Foto: Benjamin Graham (Dok. beyondbengraham.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak 1965, saham konglomerasi milik Warren Buffett, Berkshire Hathaway, membukukan imbal hasil tahunan gabungan sebesar 19,9%, hampir dua kali lipat kinerja indeks S&P 500 dalam periode yang sama. Capaian tersebut diraih bukan dengan strategi rumit, melainkan lewat konsistensi membeli bisnis berkualitas saat pasar dilanda kepanikan.

Berbeda dengan banyak manajer investasi ternama Wall Street, Buffett justru kerap mencetak keuntungan besar di tengah krisis pasar. Ia memanfaatkan momen ketika investor lain menjual asetnya karena takut, sementara valuasi bisnis bagus terdiskon tajam.

Melansir Investopedia, prinsip pertama Buffett adalah tetap tenang dan menghindari panic selling saat pasar bergejolak. Ia menegaskan pasar saham dirancang untuk memindahkan uang dari investor yang tidak sabar kepada mereka yang sabar.

Kinerja jangka panjang indeks S&P 500 memperkuat pandangan tersebut meski pasar berulang kali diterpa krisis dan resesi. Investasi US$100 pada 1928, misalnya, kini nilainya mendekati US$1 juta berkat kekuatan compounding dalam jangka panjang.

Prinsip kedua yang paling terkenal adalah pepatah Buffett, "takutlah ketika orang lain serakah, dan serakahlah ketika orang lain takut." Filosofi ini menjadi fondasi utama strateginya dalam membangun kekayaan.

Saat krisis keuangan global 2008, Buffett justru menanamkan dana US$5 miliar di Goldman Sachs ketika saham perbankan terjun bebas. Investasi itu menghasilkan lebih dari US$3 miliar keuntungan bagi Berkshire Hathaway melalui dividen tinggi dan waran saham.

Prinsip ketiga Buffett adalah fokus pada fundamental bisnis, bukan fluktuasi harga saham jangka pendek. Ia kerap bertanya apakah penurunan harga saham benar-benar mengubah permintaan produk atau jasa perusahaan tersebut.

Pendekatan ini tercermin saat Berkshire membeli saham Washington Post pada 1973 di tengah kejatuhan pasar. Investasi US$10,6 juta itu berkembang menjadi lebih dari US$200 juta pada 1985, atau melonjak hampir 1.900%.

Prinsip keempat adalah tidak mencoba menebak waktu pasar, yang menurut Buffett merupakan permainan sia-sia. Ia memilih menahan saham dalam jangka sangat panjang, seperti Coca-Cola yang telah dipegang selama 36 tahun dan American Express sejak era 1960-an.

Prinsip kelima adalah menjaga cadangan kas sebagai amunisi saat peluang langka muncul. Buffett memandang kas bukan sebagai aset menganggur, melainkan senjata strategis ketika pasar kembali panik.

Posisi kas Berkshire Hathaway yang besar kerap dikritik saat pasar bullish, namun justru menjadi keunggulan saat krisis. Buffett bahkan berkomitmen menjaga kas minimal US$10 miliar, dan belakangan memegang rekor cadangan kas di tengah ketidakpastian pasar global.

Secara keseluruhan, filosofi Buffett menekankan rasionalitas, kesabaran, dan keyakinan pada nilai intrinsik bisnis. Bagi Buffett, kejatuhan pasar bukanlah ancaman, melainkan peluang emas untuk membeli aset berkualitas dengan harga murah.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Buffett Jual Saham Bank of America, Timbun Uang Tunai Rp5.586 Triliun


Most Popular
Features