MARKET DATA

Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp16.730

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 January 2026 09:05
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Selasa (6/1/2026).

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah Garuda berada di level Rp16.730/US$ atau terapresiasi sebesar 0,03% pada awal perdagangan. Penguatan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup melemah 0,12% ke posisi Rp16.735/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat tipis 0,06% ke level 98,325, setelah sehari sebelumnya sempat berbalik terkoreksi 0,16% dan ditutup di level 98,270 meski sempat menguat di awal sesi.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya dinamika dolar AS di pasar global, yang dalam beberapa hari terakhir bergerak fluktuatif seiring kombinasi data ekonomi AS dan perkembangan geopolitik.

Dari sisi fundamental, dolar AS sempat melemah setelah rilis data indeks manufaktur ISM Desember yang kembali menunjukkan kontraksi lebih dalam, turun ke level 47,9 atau menjadi laju kontraksi terdalam dalam 14 bulan. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap ketahanan aktivitas industri AS dan menekan permintaan terhadap dolar.

Namun, tekanan tersebut sempat tertahan oleh meningkatnya permintaan aset safe haven menyusul eskalasi geopolitik di Venezuela, serta komentar bernada hawkish dari sejumlah pejabat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Seperti Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari yang menilai suku bunga AS saat ini berada dekat dengan level netral, serta Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson yang membuka peluang penyesuaian suku bunga lanjutan apabila inflasi dan pasar tenaga kerja bergerak sesuai ekspektasi.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar saat ini masih memperkirakan peluang sekitar 16% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 27-28 Januari mendatang, sementara ekspektasi jangka menengah tetap mengacu pada potensi pemangkasan suku bunga sekitar 50 basis poin di sepanjang 2026.

Dengan faktor data ekonomi AS, komentar pejabat The Fed, serta ketidakpastian geopolitik global, volatilitas dolar AS diperkirakan masih akan menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp16.385


Most Popular
Features