Data Center 'Mendidih', Pasar Keuangan Global Lumpuh

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Sabtu, 29/11/2025 20:00 WIB
Foto: Bursa Dagang Chicago. (REUTERS/John Gress)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah insiden teknis di pusat data CME Group di pinggiran kota Chicago menyebabkan perdagangan kontrak futures global terhenti lebih dari 10 jam pada Kamis malam hingga Jumat pagi waktu setempat. Suhu di dalam fasilitas data center di Aurora, Illinois, melonjak hingga mencapai 120 derajat Fahrenheit atau sekitar 49 derajat Celsius akibat kegagalan sistem pendingin udara.

Melansir The Wall Street Journal, CME Group merupakan operator bursa yang mengelola instrumen keuangan paling aktif diperdagangkan di dunia, termasuk futures yang terkait dengan indeks saham AS, obligasi Treasury, dan minyak mentah. Pemadaman ini menghentikan aktivitas perdagangan kontrak-kontrak kunci tersebut sejak larut malam Thanksgiving hingga satu jam sebelum Wall Street dibuka pada Jumat pagi.


Insiden ini menimbulkan kekhawatiran tentang kerentanan ekonomi digital, mirip dengan pemadaman baru-baru ini di Amazon Web Services dan Cloudflare yang melumpuhkan sebagian besar internet.

Meskipun perdagangan saham dan obligasi yang mendasari kontrak futures tetap berjalan, investor kehilangan ruang gerak dan kesulitan memperkirakan pergerakan pasar AS pada sesi terakhir bulan tersebut.

Berbeda dengan perdagangan saham yang tersebar di beberapa bursa seperti NYSE atau Nasdaq, pasar futures AS sangat terkonsentrasi di CME. Perusahaan ini menangani sebagian besar volume perdagangan di area kunci seperti kontrak suku bunga dan indeks saham, menjadikannya titik kegagalan tunggal yang krusial bagi pasar global.

James Angel, profesor keuangan di Georgetown University, menjelaskan bahwa jika pusat data NYSE di New Jersey mengalami gangguan, bursa lain dapat terus beroperasi. Namun di sisi futures, konsentrasi perdagangan di CME menjadikannya sebagai satu-satunya pintu masuk yang tidak bisa digantikan.

CME menyalahkan pemadaman pada masalah pendinginan di pusat perdagangan elektronik utama di Aurora, Illinois. Suhu di fasilitas tersebut melonjak hingga sekitar 120 derajat Fahrenheit setelah sistem AC gagal berfungsi, padahal standar industri menetapkan suhu pusat data harus dijaga antara 64-81 derajat Fahrenheit menurut American Society of Heating, Refrigerating, and Air-Conditioning Engineers.

Pusat data Aurora dioperasikan oleh perusahaan lain, CyrusOne, yang membelinya dari CME pada 2016. CyrusOne meminta maaf atas gangguan tersebut dan menyatakan masalah berasal dari "kegagalan sistem chiller yang mempengaruhi beberapa unit pendingin."

Perusahaan tersebut mengirim teknisi untuk menangani darurat semalam, mendatangkan peralatan pendingin sementara sambil berlomba memperbaiki sistem pendingin utama. CyrusOne yang dimiliki oleh firma investasi KKR dan Global Infrastructure Partners sejak 2022 ini mengoperasikan puluhan pusat data di seluruh dunia dan belakangan fokus memenuhi kebutuhan ledakan artificial intelligence yang memicu pembangunan masif pusat data yang rakus energi.

Pemadaman yang juga mengganggu platform perdagangan obligasi dan mata uang yang dioperasikan CME ini menggarisbawahi betapa besar ketergantungan pasar pada kelancaran fungsi pusat data Aurora. Dampaknya bahkan dirasakan hingga Kuala Lumpur, di mana operator bursa Malaysia menghentikan perdagangan di pasar derivatifnya.

Di lokasi mirip gudang dekat Interstate 88 tersebut, sistem perdagangan inti CME berdampingan dengan server perusahaan perdagangan frekuensi tinggi yang membutuhkan akses data secara instan. Fasilitas ini dikelilingi antena yang digunakan perusahaan trading untuk menyampaikan pergerakan harga dengan cepat ke pusat keuangan lain di seluruh dunia.

Belum jelas mengapa CME tidak beralih menggunakan pusat data cadangannya di wilayah New York. Salah satu masalah potensial adalah perusahaan perdagangan besar yang mengutip harga di CME tidak memiliki infrastruktur teknis yang kuat di lokasi cadangan, dan lebih memilih menunggu pemadaman di Aurora selesai.

Selain Chicago Mercantile Exchange, CME memiliki mantan pesaing seperti Chicago Board of Trade, New York Mercantile Exchange, dan Commodity Exchange atau Comex. Derivatif yang ditangani CME sangat penting bagi pasar global, dengan rata-rata setiap hari memproses perdagangan futures dan opsi terkait indeks ekuitas senilai US$ 1,5 triliun, serta taruhan terkait suku bunga dengan nilai nosional US$ 9,6 triliun.

Futures-produk inti CME-adalah kontrak yang terkait dengan level masa depan harga komoditas, indeks saham, obligasi, dan nilai aset lainnya. Pedagang menggunakannya untuk melindungi diri dari volatilitas atau bertaruh pada pergerakan pasar, dengan yang terbesar di CME adalah futures terkait S&P 500 dan suku bunga benchmark SOFR.

FMX, bursa pendatang baru yang berusaha menantang dominasi CME di futures suku bunga, mengatakan pemadaman ini menyoroti perlunya alternatif. CEO FMX Louis Scotto menyatakan bahwa meskipun pemadaman seperti ini tidak menguntungkan dan sering tak terhindarkan, insiden tersebut menggarisbawahi kebutuhan akan lebih banyak kompetisi dan pilihan di pasar global yang kritikal.

CME pernah mengalami gangguan sebelumnya, termasuk pada Februari 2019 ketika perdagangan di semua pasar pada platform elektronik CME dihentikan selama beberapa jam karena masalah teknis. Pasar lain di AS dan Eropa juga mengalami pemadaman sesekali selama dekade terakhir.

Ini merupakan pemadaman terpanjang dalam sejarah CME belakangan ini, namun dampaknya teredam karena terjadi pada larut malam Thanksgiving. Aksi pasar reguler yang mengikuti pada Black Friday berlangsung tanpa kejadian berarti, seperti sesi perdagangan pascaliburan pada umumnya.

"Setidaknya mereka memilih tanggal yang bagus untuk mengalami pemadaman," kata Agustin Lebron, seorang trader di Praha. "Jika ini terjadi pada hari normal, ini akan menjadi masalah yang sangat besar."


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Akhir Drama Shutdown AS Buka Peluang Rebound Pasar Asia