CNBC Insight

Keluar Penjara, Orang Ini Balas Dendam Jadi Raja Otomotif RI

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 29/11/2025 15:45 WIB
Foto: Dok. Astra

Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik deretan produk otomotif populer seperti Toyota, Daihatsu, Isuzu, Nissan, Lexus, Peugeot hingga BMW, ada satu tokoh sentral yang membesarkan industri tersebut di Indonesia: William Soerjadjaja atau Tjia Kian Liong. Pendiri PT Astra International Tbk itu dikenal sebagai sosok yang membangun gurita otomotif nasional dari titik nol, bahkan setelah mengalami masa kelam ketika dituduh korupsi tanpa dasar pada 1950-an.

Di masa itu, William yang baru merintis usaha harus mendekam di penjara. Namanya tercoreng dan bisnisnya hancur. Namun begitu keluar, ia memilih bangkit. Bersama adiknya, ia membeli sebuah perusahaan impor kecil di Jl. Sabang, Jakarta. Kondisi perusahaan tersebut jauh dari ideal-kantor sempit, sering kebanjiran, dan bisnis yang hampir mati.


Adiknya kemudian mengusulkan nama baru: Astra, diambil dari sosok dewi Yunani kuno yang berubah menjadi bintang di langit. Harapannya sederhana, agar perusahaan ini ikut bersinar. Astra International Inc pun resmi berdiri pada 20 Februari 1957 setelah tercatat di hadapan Notaris Sie Khwan Djioe.

Sejak awal berdirinya, Astra langsung terjun ke pasar kendaraan bermotor yang saat itu masih dikuasai pemain lama. Meski sempat bergelut dengan ketidakstabilan ekonomi era 1960-an dan berkali-kali nyaris tumbang, perusahaan terus bertahan hingga momentum besar datang ketika pemerintahan berganti dari Soekarno ke Soeharto.

Pada 1966, William mendapatkan pinjaman dari Amerika Serikat senilai US$ 2,9 juta yang disertai izin impor luas. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk memasok truk Chevrolet yang dibutuhkan pemerintah untuk proyek infrastruktur. Bisuk Siahaan dalam bukunya mencatat William mengimpor 800 truk pada tahap awal-langkah yang menjadi pintu masuknya ke industri otomotif.

Setelah kemudian mendapat pembatasan dari AS, William beralih ke Jepang, negara yang saat itu belum terlalu kuat di pasar Indonesia. Pada Februari 1969, Astra resmi menjalin kemitraan dengan Toyota. Sejak kerja sama itu berjalan, produk Toyota semakin merajai pasar lokal, disusul pemasaran Honda, Isuzu, dan Daihatsu oleh Astra.

Untuk memenangkan pasar dan menyaingi Mitsubishi, William membangun strategi agresif: menguasai rantai bisnis dari hulu ke hilir, mulai produksi komponen hingga distribusi. Ia juga menerapkan pola manajemen ala Jepang, keiretsu, yang memungkinkan direksi di satu perusahaan duduk sebagai komisaris di perusahaan lain. Strategi ini terbukti efektif dalam memperkuat kontrol pasar.

Pada 1990, Gaikindo mencatat Astra menguasai lebih dari 50% pangsa pasar otomotif Indonesia. Merek-merek besar mulai dari Toyota hingga BMW berada di bawah kendali grup ini. Bisnis pun merambah ke sektor lain seperti properti, asuransi, perkebunan, dan perbankan. Kesuksesan tersebut mengantarkan Astra melantai di bursa pada 4 April 1990.

Namun kejayaan itu runtuh setelah masalah besar menimpa Bank Summa, bank yang dibeli putra sulung William pada 1988. Setelah sempat masuk daftar 10 bank swasta terbaik, Bank Summa terperosok karena kredit macet dan utang luar negeri hingga Rp 1,5 triliun. Bank Indonesia tidak memberikan bantuan, membuat William mengambil keputusan yang menyakitkan: melepas 76% saham Astra untuk menyelamatkan dana nasabah. Bahkan, saham itu dijual di bawah harga pasar saat itu.

Di balik kejadian ini, muncul dugaan adanya tekanan politik. Ricardi S. Adnan dalam disertasinya menggambarkan ketidakharmonisan hubungan William dengan Presiden Soeharto. William dikenal independen, tidak dekat dengan lingkar kekuasaan, dan enggan memberi fasilitas kepada pejabat atau penguasa. Ia juga tercatat dekat dengan Megawati dan menjadi donor tetap PDI, serta sempat bekerja sama dengan kalangan Nahdlatul Ulama.

Majalah Warta Ekonomi dan sejumlah tokoh publik seperti Ichsanuddin Noorsy bahkan menyebut pencabutan kliring Bank Summa sebagai langkah yang membuat bank sehat itu tampak bermasalah. Dalam wawancaranya dengan Tempo, William sendiri mengakui adanya upaya menyingkirkannya dari perusahaan yang ia bangun.

Sejak penjualan saham itu, Astra tak lagi menjadi milik keluarga William. Upaya untuk mengembalikannya ke Astra di era Gus Dur dan Megawati pun tidak berhasil. Kepemilikan Astra kemudian tersebar di tangan berbagai investor besar, termasuk Putera Sampoerna, Bob Hasan, Prajogo Pangestu, Toyota Jepang, dan kelompok Salim.

Meski begitu, perjalanan William tetap dikenang sebagai salah satu kisah kebangkitan terbesar dalam sejarah bisnis Indonesia: keluar dari penjara, bangkit dari keterpurukan, dan membangun kerajaan otomotif terbesar di Tanah Air.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kulik Cuan Kontraktor Tambang di Hilirisasi Batu Bara - Nikel