Tak Terduga! Biang Kerok Dunia Gonjang Ganjing Pasca Covid

Market - Anisa Sopiah, CNBC Indonesia
26 January 2023 20:21
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara BRI Microfinance Outlook 2023, dengan tema Financial Inclusion and ESG: The Road to Equitable and Economic Prosperity di Gedung BRI, Jakarta, Kamis (26/1/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara BRI Microfinance Outlook 2023, dengan tema Financial Inclusion and ESG: The Road to Equitable and Economic Prosperity di Gedung BRI, Jakarta, Kamis (26/1/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani bercerita di depan para bankir tentang tantangan yang dihadapi para pengambil kebijakan saat terjadi guncangan ekonomi selama 2 tahun ke belakang. Ia mengatakan, para penentu kebijakan sempat salah prediksi terkait kondisi ekonomi pasca pandemi.


"Dipikirnya sesudah ada vaksin masyarakat mulai pulih lagi, maka ekonomi kembali normal and then we can focus on growth. Ternyata tidak, 3 years sesudah pandemi behaviour masyarakat berubah dan ini menyebabkan ketidaksinkronan antara sisi pemulihan demand side dengan respon sisi supply sidenya," ceritanya dalam acara BRI Microfinance Outlook 2023, Kamis (26/1/2023).

Ketidakselarasan antara permintaan dan pasokan inilah yang menurutnya menjadi awal mula komplikasi ekonomi di tahun 2021. Karena pada saat pemulihan ekonomi pasca pandemi mulai terjadi, sistem produksi, distribusi, dan transportasi kondisinya masih belum siap seperti sebelum pandemi.

"Ini yang menimbulkan komplikasi pertama 2021 pada saat kita melihat inflasi meningkat karena demand exceeding supply, supplynya bukan hanya karena produksi belum normal tapi distribusi, transportasi juga tidak normal," lanjutnya.

Ia bercerita saat itu pemerintah menganggap bahwa kondisi inflasi pasca pandemi hanya terjadi sementara. Awalnya, pemerintah menilai disrupsi pasokan tersebut merupakan masa transisi yang bisa selesai dalam waktu singkat.

"Another challenge adalah membaca situasi itu, tadinya dipikir oleh para policy maker, bank sentral, menteri keuangan melihat situasi itu sebagai temporary transisi dari situasi yang tadinya mandek karena pandemi menjadi normal kembali sehingga behaviour dari policy respond adalah oh inflasi itu adalah tekanan sementara karena transisi," ceritanya.

Namun ternyata, gangguan rantai pasok tersebut diperparah dengan situasi global yang memanas. Ketegangan geopolitik, perang, dan kenaikan suku bunga secara agresif menimbulkan tumpahan efek yang menyebabkan kondisi perekonomian global semakin terganggu. Akibatnya, di tahun 2022 lalu banyak negara yang terjerumus ke jurang resesi.

"Ternyata inflasinya tidak sementara karena kemudian selain behaviournya cukup lama, normalisasinya cukup lama, scaring efeknya cukup dalam dari sisi production dan distribution, maka kemudian menimbulkan juga inflasi yang lebih persistence bahkan merambat naik, ditimpa atau ditambah juga dengan situasi geopolitik yaitu perang di ukraina yang kemudian menimbulkan spill over ke pangan dan energi," lanjutnya.

"Nah semua komoditas naik karena memang demand exceding supply dan ditambah uncertainty dari sisi supply disruption yang terus continue terjadi. Itu episode yang kita rekam di 2022," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Karyawan Tak Ikut Program Pensiun, Perusahaan Bakal Disanksi!


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading