Bikin Nyangkut & Dipelototi BEI, Ini Kata ZATA Sultan Subang

Market - Romys Binekasri, CNBC Indonesia
25 January 2023 08:42
Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten fashion PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) menjelaskan terkait aktivitas dan penurunan harga signifikan pada periode 12 hingga 18 Januari 2023 yang berujung pada status pergerakan di luar kewajaran alias unusual market activity (UMA).

Harga saham ZATA secara kumulatif ditutup turun sebesar 20,91% di Rp 23 per saham dari harga penutupan hari bursa pada 1 Januari 2023 di level Rp 110 per saham. Investor ritel pun banyak yang nyangkut akibat pergerakan ini.

Rata-rata aktivitas transaksi menurun menjadi sebanyak 26.957.280 saham dengan frekuensi 2.302 kali dibandingkan hari bursa tanggal 1 Januari 2023 sebanyak 76.574.600 saham dengan frekuensi 6.331 kali.

Direktur Utama PT Bersama Zatta Jaya Tbk Elidawati menjelaskan, perseroan belum memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi yang akan mempengaruhi pencatatan saham di bursa dalam waktu dekat setidaknya dalam 3 bulan mendatang.

Selain itu, pihaknya tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau keputusan investasi pemodal sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 31/POJK.04/2015 Tentang Keterbukaan Informasi Atau Fakta Material Oleh Emiten Atau Perusahaan Publik.

"Perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau keputusan investasi pemodal," ujarnya dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (25/1).

Menurutnya, perseroan telah menyampaikan seluruh informasi material kepada publik dan informasi terakhir yang disampaikan adalah laporan kepemilikan saham pada tanggal 20 Januari 2023, laporam penggunaan dana hasil IPO pada tanggal 12 dan 16 Januari 2023, dan laporan bulanan registrasi pemegang efek yang berakhir pada 31 Desember 2022 pada tanggal 09 Januari 2023.

"Tidak ada informasi/fakta/kejadian penting yang material dan dapat mempengaruhi harga efek serta keberlangsungan hidup Perseroan, yang belum diungkapkan kepada publik," tegasnya.

ZATA adalah salah satu perusahaan milik Asep Sulaeman Sabanda atau Sultan Subang. 

Melihat rekam jejaknya, Haji Asep bukan orang asing di pasar modal. Sebelumnya, pada 2019, Haji Asep diketahui memiliki perusahaan di sektor tambang, yakni PT Sumber Energi Alam Mineral atau SEAM Group.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Setelah 'Sang Naga', Giliran Sultan Subang Ramaikan Bursa


(RCI/dhf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading