Duh! Hantu Resesi Kembali Muncul, Bursa Asia Mulai Terimbas

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
07 December 2022 08:42
Investors look at computer screens showing stock information at a brokerage house in Shanghai, China September 7, 2018. REUTERS/Aly Song Foto: Bursa China (Reuters/Aly Song)

Jakarta, CNBC IndonesiaIndeks Nikkei 225 Jepang dibuka melemah 0,6%, Hang Seng Hong Kong turun 0,16%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,26%, Straits Times Singapura terpangkas 0,15%, ASX 200 Australia terdepresiasi 0,63%, dan KOSPI Korea Selatan terjerembab 0,27%.

Dari Australia, perekonomiannya berkembang pada tingkat tahunan tercepat pada kuartal III-2022, karena ekonomi dipercepat dari penguncian terkait Covid-19 setahun sebelumnya.

Pada periode Juli-September, Produk Domestik Bruto (PDB) Australia tumbuh 5,9%, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu tumbuh 3,6%, ketika sekitar setengah ekonomi muncul dari gangguan ketat terkait pandemi, berdasarkan data dari Biro Statistik Australia (ABS).

Namun, angka tersebut masih lebih rendah dari prediksi ekonom dalam survei Trading Economics yang memperkirakan PDB Australia pada kuartal III-2022 tumbuh 6,4%.

Sedangkan secara basis kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), PDB Australia pada kuartal III-2022 hanya tumbuh 0,6%, lebih rendah dari pertumbuhan PDB pada kuartal II-2022 sebesar 0,9%.

Pengeluaran konsumen, didukung oleh kenaikan upah dan orang-orang yang menabung lebih sedikit, mendorong pertumbuhan pada kuartal III-2022. Sedangkan pengeluaran rumah tangga naik 1,1%, menyumbang 0,6 poin persentase dari pertumbuhan PDB.

Sementara untuk tingkat tabungan turun untuk kuartal keempat berturut-turut, turun menjadi 6,9%, dari sebelumnya tumbuh 8,3%, untuk kembali ke tingkat pra-pandemi.

Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) memperkirakan pertumbuhan PDB tahunan menjadi 4% di tahun 2022 secara keseluruhan, sebelum turun menjadi 2% tahun depan dan 1,5% pada tahun 2024.

Untuk kuartal III-2022, kompensasi karyawan meningkat 3,2%, menjadi kenaikan terkuat sejak kuartal IV-2006.

"Kondisi pasar tenaga kerja yang ketat, dengan tingkat pengangguran yang rendah dalam beberapa dekade, dan lowongan pekerjaan di tingkat yang tinggi menjadi kunci kenaikan pertumbuhan ekonomi," ujar ABS, dikutip dari The Guardian.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah pada hari ini menyusul kembali bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Senin kemarin, di mana Wall Street kembali ambruk

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 1,03%, S&P 500 ambles 1,44%, dan Nasdaq Composite ambruk 2%.

Wall Street ambles setelah kekhawatiran resesi kembali meningkat dan proyeksi masih lamanya kebijakan moneter ketat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Sektor teknologi menjadi sektor dengan kinerja yang mengecewakan kemarin. Investor khawatir kinerja perusahaan berbasis teknologi akan berat di tengah perekonomian global yang menantang.

Wall Street juga ambruk setelah sejumlah CEO dari institusi multinational menyampaikan sejumlah kekhawatiran mengenai ancaman resesi. Survei The Economist juga menunjukkan jika 56% warga AS percaya jika Negara Paman Sam sudah berada di fase resesi.

CEO Goldman Sachs David Solomon mengingatkan perekonomian global akan menghadapi ketidakpastian serta periode yang bergejolak pada tahun depan. Dia menjelaskan kebijakan moneter ketat serta perkembangan ekonomi yang berganti begitu cepat membuat ekonomi global melambat.

"Saya pikir kita harus mengasumsikan jika kita akan menghadapi periode yang bergejolak. Kondisi perekonomian yang semakin berat," tutur Solomon, dikutip dari The Guardian.

Goldman memperkirakan jika ekonomi global akan melambat ke 1,9% pada 2023. Proyeksi ini jauh di bawah proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yakni 2,7%.

CEO JPMorgan, General Motors, Walmart, United dan Union Pacific juga menyampaikan kekhawatiran serupa, Perekonomian global diproyeksi akan melambat sehingga semuanya diminta menyiapkan diri.

Seperti diketahui, harapan pelaku pasar untuk segera melihat pelonggaran kebijakan The Fed pun memudar. Pasalnya, data tenaga kerja dan PMI sektor jasa AS masih kencang sehingga inflasi diperkirakan masih tinggi.

Dengan inflasi yang masih tinggi, The Fed diproyeksi masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketatnya.

"Pertemuan The Fed akan digelar pekan depan sehingga arah pergerakan emas akan sangat ditentukan seberapa besar kenaikan suku bunga The Fed," tutur analis CMC Markets, Michael Hewson, dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sinyal Nggak Enak Buat IHSG Nih... Bursa Asia Loyo Lagi


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading