CNBC Indonesia Research

Amerika Resesi di Awal 2023, Wall Street Bakal Anjlok 24%!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 December 2022 07:20
A Trump Unity sign on a trailer is shown parked at a protest in front of the Michigan State Capitol in Lansing, Mich., Wednesday, April 15, 2020. Flag-waving, honking protesters drove past the Michigan Capitol on Wednesday to show their displeasure with Gov. Gretchen Whitmer's orders to keep people at home and businesses locked during the new coronavirus COVID-19 outbreak. (AP Photo/Paul Sancya) Foto: Demo warga Michigan, Amerika Serikat wujud kekecewaan warga setelah Gubernur Michigan memerintahkan warga tetap di rumah guna mencegah penyebaran virus corona (Covid-19). (AP Photo/Paul Sancya)

Jakarta, CNBC Indonesia - Resesi sepertinya pasti akan melanda Amerika Serikat (AS) di tahun depan. Beberapa analis masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Negeri Adidaya akan negatif meski bank sentral AS (The Fed) akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya.

Terbaru, Bank of America (BofA) memperkirakan AS akan mengalami resesi di kuartal I-2023.

"Kabar buruknya di 2023, proses pengetatan moneter akan menunjukkan dampaknya ke ekonomi," kata ekonom Bank of America, Savita Subramanian, sebagaimana dilansir Business Insider, Rabu (30/11/2022).

BofA memprediksi produk domestik bruto (PDB) AS akan -0,4% pada periode Januari - Maret 2023.

Kabar buruknya lagi, bursa saham AS (Wall Street) diperkirakan akan merosot, indeks S&P 500 diramal akan ambrol 24% dari level saat ini.

Tidak hanya resesi yang akan menggerogoti pasar saham di tahun depan, kenaikan suku bunga, inflasi yang masih tinggi serta perang Rusia-Ukraina diperkirakan akan membuat investor takut masuk ke aset berisiko.

Sementara itu investor ternama, Michael Burry, memprediksi Amerika Serikat akan mengalami resesi selama beberapa tahun.

"Strategi apa yang bisa mengeluarkan kita dari resesi? Kekuatan apa yang bisa membawa kita keluar? Tidak ada. Kita akan mengalami resesi bertahun-tahun," kata Burry dalam cuitannya di Twitter, sebagaimana dilansir Business Insider.

Meski banyak yang meramal resesi akan terjadi, bahkan bisa panjang dan parah, The Fed masih kekeh terus menaikkan suku bunga.

Ketua The Fed, Jerome Powell, sudah menyatakan laju kenaikan suku bunga bisa mulai dikendurkan bulan ini. Artinya, The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 4,25% - 4,5%.

Namun, Powell menegaskan ke depannya suku bunga tetap akan dinaikkan dan ditahan pada level tinggi sampai inflasi berhasil diturunkan ke 2%.

"Meski perkembangan terbaru terlihat menjanjikan, tetapi jalan kita masih panjang untuk mencapai stabilitas harga," kata Powell saat memberikan pidato di acara Brookings Institution sebagaimana dikutip CNBC International.

Stabilitas harga menjadi prioritas utama The Fed, meski resesi menjadi taruhannya. Artinya, inflasi tinggi lebih mengerikan ketimbang resesi. Inflasi tinggi yang mendarah daging lebih sulit disembuhkan ketimbang resesi.

Bahkan faktanya, The Fed dan bank sentral lainnya "sengaja" membuat resesi, sebab saat itu terjadi maka demand masyarakat akan menurun dan bisa menekan inflasi lebih cepat.

Masalahnya akan menjadi runyam seandianya inflasi tidak turun meski resesi sudah terjadi, hal ini disebut resflasi oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

"Ada risiko stagflasi, pertumbuhannya stuck turun namun inflasinya tinggi. Bahkan istilahnya adalah resflasi, risiko resesi dan tinggi inflasi," tutur Perry pada saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, (Senin, 21/22/2022).

Dalam kondisi normal, ketika resesi terjadi maka bank sentral akan menurunkan suku bunganya, memberikan stimulus moneter guna memacu perekonomian.

Pemerintah juga bisa mengambil kebijakan fiskal ekspansif dengan meningkatkan belanja. Contohnya ketika terjadi resesi akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) 2020 lalu.


Bank sentral di berbagai negara menurunkan suku bunganya dengan agresif, pemerintah pun meningkatkan belanja yang akhirnya bisa memacu perekonomian.
Namun, saat resflasi hal itu tidak bisa dilakukan. Balik lagi, resflasi yakni resesi disertai dengan inflasi yang tinggi.

Ketika inflasi tinggi, maka bank sentral akan mengetatkan kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan. Pemerintah pun mengambil kebijakan fiskal yang kontraktif, tujuannya untuk menurunkan inflasi.

Semakin tinggi suku bunga, inflasi bisa segera diturunkan. Masalahnya, kebijakan tersebut berlawan dengan kebutuhan untuk membangkitkan perekonomian karena resesi.

Semakin tinggi suku bunga, maka resesi semakin dalam. Rumit!

Sehingga dibutuhkan keseimbangan kebijakan baik moneter dan fiskal, untuk menurunkan inflasi sekaligus mencegah perekonomian tidak mengalami resesi yang dalam.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Awas! Kalau Dunia Resesi, Ini Dampak Buruknya Bagi RI


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading