'Kiamat' Uang Kertas Kian Nyata, Ini Ramalan Baru BI!

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
30 November 2022 16:20
Makin Terlupakan! BI  Ungkap Fakta Terbaru ‘Kiamat’ ATM Foto: Infografis/ Makin Terlupakan! BI Ungkap Fakta Terbaru ‘Kiamat’ ATM/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memberikan proyeksi terbaru mengenai transaksi uang elektronik yang akan terus tumbuh signifikan. Hal ini menandakan uang kertas tidak akan lagi banyak digunakan oleh masyarakat luas.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, ekonomi dan keuangan digital akan meningkat pada 2023 dan 2024, dimana transaksi e-commerce diperkirakan mencapai Rp 572 triliun pada 2023 dan Rp 689 triliun pada 2024.

"Uang elektronik Rp 508 triliun (pada 2023) dan Rp 640 triliun (pada 2024)," jelas Perry dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2022, Rabu (30/11/2022).

Adapun digital banking juga diproyeksikan akan mencapai lebih dari Rp 67.000 triliun pada 2023 dan Rp 87.000 triliun pada 2024.

Perry bilang, bauran kebijakan BI pada 2023 akan terus diarahkan sebagai bagian dari bauran kebijakan nasional untuk memperkuat ketahanan, pemulihan, dan kebangkitan perekonomian Indonesia di tengah kondisi ekonomi global yang akan melambat dan risiko resesi di sejumlah negara.

Kebijakan moneter Bank Indonesia pada 2023 akan terus difokuskan untuk menjaga stabilitas (pro-stability).

Sementara itu, empat kebijakan BI lainnya yaitu kebijakan makroprudensial, kebijakan sistem pembayaran, kebijakan pendalaman pasar keuangan, dan kebijakan ekonomi keuangan inklusif dan hijau akan terus diarahkan untuk dan sebagai bagian dari upaya bersama dalam mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional (pro-growth).

Adapun digitalisasi sistem pembayaran berdasarkan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2024 akan terus didorong untuk mengakselerasi integrasi ekonomi dan keuangan digital.

"Kerja sama sistem pembayaran antarnegara, serta tahapan pengembangan Digital Rupiah sebagaimana 'white paper' yang juga diluncurkan pada penyelenggaraan PTBI 2022," jelas Perry.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah di Atas Rp 15.000/US$, Bahaya untuk RI?


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading