Kehabisan Bensin, IHSG Sesi I Ditutup Ambrol 0,65%

Market - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
25 November 2022 11:38
Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambrol pada penutupan perdagangan sesi I Jumat (25/11/2022). Nyatanya angin segar dari risalah The Fed yang akan mengendurkan laju kenaikan suku bunga acuannya tak berlangsung lama bagi IHSG.

IHSG dibuka naik tipis di posisi 7.080,55 dan ditutup di zona merah dengan koreksi 0,65% atau 45,92 poin, ke 7.034,59 pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 11:30 WIB. Nilai perdagangan tercatat turun ke Rp5,56 triliun dengan melibatkan lebih dari 16 miliar saham yang berpindah tangan 684 kali.

Melihat pergerakan perdagangan, selang 2 menit saja HIS sudah turun 0,11% ke 7.072,91. Pukul 10:04 WIB indeks terpantau masih melanjutkan perlemahan 0,4% ke 7.052,51 dan terus konsisten berada di zona koreksi hingga penutupan perdagangan sesi I.

Level tertinggi berada di 7.086,56 sesaat setelah perdagangan dibuka, sementara level terendah berada di 7.031,8 sesaat sebelum perdagangan ditutup. Mayoritas saham siang ini terpantau mengalami penurunan.

Statistik perdagangan mencatat ada 291 saham yang mengalami penurunan dan 203 saham yang naik, serta sisanya sebanyak 196 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham yang paling besar nilai transaksinya siang ini, yakni mencapai Rp 297,7 miliar. Sedangkan saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menyusul di posisi kedua dengan nilai transaksi mencapai Rp 296,2 miliar dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di posisi ketiga sebesar Rp 208,2 miliar.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) tutup pada perdagangan Kamis untuk liburan Thanksgiving dan akan tutup lebih awal pada hari Jumat. Sehingga sentimen penggerak IHSG hari ini menjadi begitu minim.

Suasana 'happy' pasca The Fed yang membawa angin segar terkait suku bunya nyatanya hanya bertahan sehari. IHSG kembali runtuh.

Dalam rilis risalah rapat kebijakan moneter edisi November para pejabat The Fed sepakat untuk segera mengendurkan laju kenaikan suku bunga.

 

Bank sentral paling powerful di dunia ini akan kembali mengadakan rapat kebijakan moneter pada pertengahan Desember mendatang. Pasar melihat The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 4,25% - 4,5% dengan probabilitas sebesar 75%, berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group.

Seperti diketahui, The Fed di bawah pimpinan Jerome Powell sebelumnya sudah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin empat kali beruntun hingga suku bunga saat ini menjadi 3,75% - 4%.

Risalah tersebut juga menunjukkan dengan kenaikan suku bunga yang lebih kecil, para pejabat The Fed bisa mengevaluasi dampak dari kenaikan agresif sebelumnya.

Sebelumnya harapan akan mengendurnya The Fed muncul setelah tingkat pengangguran di Amerika Serikat mengalami kenaikan pada Oktober, sementara inflasi menurun.

Mengacu pada FedWatch, sebanyak 75,8% analis memprediksikan adanya kenaikan sekitar 50 bps dan akan mengirim tingkat suku bunga acuan Fed menjadi 4,25%-4,5%.

Meski The Fed akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya, bukan berarti tekanan bagi rupiah selesai. Memang tekanan akan sedikit berkurang, tetapi kenaikan suku bunga The Fed seberapa pun itu tetap menjadi penekan rupiah.

Pelaku pasar dalam beberapa hari terakhir sudah memprediksi The Fed akan menaikkan 50 basis poin bulan depan, dan rupiah masih tetap sulit menguat.

Selain itu, yang menjadi fokus utama sebenarnya bukan berapa basis poin kenaikan, tetapi seberapa tinggi suku bunga The Fed di akhir periode pengetatan moneter.

Di sisi lain, investor juga tengah mengamati perkembangan kasus Covid-19 di China. Ia kembali melaporkan lebih dari 31.000 infeksi Covid pada hari Rabu, termasuk kasus tanpa gejala. Angka ini melampaui level tertinggi 29.317 yang terlihat pada pertengahan April, selama penguncian Shanghai, menurut perhitungan CNBC dari data Wind Information.

Namun, infeksi Covid harian dengan gejala tetap jauh di bawah angka tertinggi yang terlihat pada bulan April. Hampir 90% atau lebih dari total kasus Covid yang dilaporkan dalam beberapa hari terakhir tidak menunjukkan gejala.

Seperti sebelumnya, investor harus memantau perkembangan dengan hati-hati karena pelaksanaan rencana pembukaan kembali yang setia akan menjadi kunci prospek investasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Sempat Menguat di Sesi 1, IHSG Hari Ini Ditutup Melemah


(aum/aum)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading