Joss! Rupiah Menuju Penguatan 4 Hari Beruntun

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 November 2022 09:11
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Jumat (25/11/2022) setelah sebelumnya membukukan penguatan 3 hari beruntun. Indeks dolar AS yang terus merosot membuat tren penguatan rupiah berlanjut.

Melansir data Refinitiv rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,15% ke Rp 15.640/US$.

Penguatan dolar AS mulai terkikis terlihat dari indeksnya Indeks yang terus menurun. Pada akhir September lalu, indeks dolar AS ini berada di kisaran 114, tertinggi dalam lebih dari 20 tahun terakhir, kini berada di 106.

Para investor kini mulai meninggalkan dolar AS. Hal ini terlihat dari posisi spekulatif para investor, yakni jual bersih (net short) dolar AS untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli 2021.

Berdasarkan data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC), pada pekan yang berakhir 15 November, posisi dolar AS terhadap mata uang utama berbalik menjadi net short sebesar US$ 10,5 juta, dari pekan sebelumnya net long (beli bersih) US$ 2,36 miliar.

Posisi net short artinya lebih banyak investor mengambil posisi jual dolar AS melawan mata unag utama seperti yen, euro, poundsterling, franc Swiss, dolar Kanada dan lain-lain.

Berbaliknya posisi spekulatif tersebut akibat munculnya ekspektasi The Fed (bank sentral AS) akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya setelah tingkat pengangguran mengalami kenaikan, dan inflasi menurun.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan tingkat pengangguran bulan Oktober naik menjadi 3,7% dari bulan sebelumnya 3,5%.

Kemudian inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) dilaporkan tumbuh 7,7% year-on-year (yoy). Pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya 8,2% (yoy).

Inflasi tersebut sudah mulai menurun sejak Juli lalu, semakin menjauhi rekor tertinggi 40 tahun di 9% yang dicapai pada Juni lalu.

Selain itu, he Fed mengkonfirmasi akan segera mengendurkan laju kenaikan suku bunganya.

Para pejabat The Fed sepakat akan hal tersebut, tersurat dari rilis risalah rapat kebijakan moneter edisi November pada Kamis (24/11/2022) dini hari.

"Mayoritas partisipan menilai pelambatan laju kenaikan suku bunga akan tepat jika segera dilakukan," tulis risalah tersebut, sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (24/11/2022).

Bank sentral paling powerful di dunia ini akan kembali mengadakan rapat kebijakan moneter pada pertengahan Desember mendatang. Pasar melihat The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 4,25% - 4,5% dengan probabilitas sebesar 75%, berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar Diramal Sentuh Rp 15.000, Kapan & Apa Penyebabnya?


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading