Menguat Tajam, Rupiah Menuju Penguatan 3 Hari Beruntun!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 November 2022 09:06
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat cukup tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Kamis (24/11/2022). Jika mampu dipertahankan hingga penutupan, maka rupiah akan mencatat penguatan 3 hari beruntun.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di Rp 15.630/US$, menguat 0,35% di pasar spot.

Menguatnya ekspektasi bank sentral AS (The Fed) akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya membuat rupiah perkasa.

Ekspektasi tersebut sebelumnya muncul pasca kenaikan tingkat pengangguran dan turunnya inflasi di Amerika Serikat. Ini kemudian diperkuat dengan rilis risalah rapat kebijakan moneter The Fed dini hari tadi.

Dalam rilis risalah tersebut para pejabat The Fed sepakat untuk segera mengendurkan laju kenaikan suku bunga.

"Mayoritas partisipan menilai pelambatan laju kenaikan suku bunga akan tepat jika segera dilakukan," tulis risalah tersebut, sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (24/11/2022).

Bank sentral paling powerful di dunia ini akan kembali mengadakan rapat kebijakan moneter pada pertengahan Desember mendatang. Pasar melihat The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 4,25% - 4,5% dengan probabilitas sebesar 68%, berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group.

Seperti diketahui, The Fed sebelumnya sudah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin empat kali beruntun hingga suku bunga saat ini menjadi 3,75% - 4%.

Risalah tersebut juga menunjukkan dengan kenaikan suku bunga yang lebih kecil, para pejabat The Fed bisa mengevaluasi dampak dari kenaikan agresif sebelumnya.

Selain itu, posisi spekulatif para investor terhadap dolar AS kini berbalik menjadi jual bersih (net short) untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli 2021.

Berdasarkan data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC), pada pekan yang berakhir 15 November, posisi dolar AS terhadap mata uang utama berbalik menjadi net short sebesar US$ 10,5 juta, dari pekan sebelumnya net long (beli bersih) US$ 2,36 miliar.

Posisi net short artinya lebih banyak investor mengambil posisi jual dolar AS melawan mata uang utama seperti yen, euro, poundsterling, franc Swiss, dolar Kanada dan lain-lain.

Jika posisi net short itu terus bertambah, dolar AS tentunya bisa merosot dan masa depan rupiah menjadi sedikit lebih baik.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BI Ramal Rupiah Rp 15.200/US$ di 2023, Yakin Tak Lebih Lemah?


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading