Dolar AS Loyo, Eh Rupiah Dkk Malah Ikutan!

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
23 November 2022 11:55
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Luxury Valuta Perkasa, Blok M, Jakarta, Kamis, 21/7. Rupiah tertekan pada perdagangan Kamis (21/7/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Luxury Valuta Perkasa, Blok M, Jakarta, Kamis, 21/7. Rupiah tertekan pada perdagangan Kamis (21/7/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar sempat menguat kemudian kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga pada pertengahan perdagangan Rabu (23/11/2022). Seiring dengan pelemahan mayoritas mata uang di Asia.

Mengacu pada data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan rupiah terapresiasi 0,1% ke Rp 15.680/US$. Sayangnya, rupiah berbalik arah dan terkoreksi tipis 0,03% ke Rp 15.700/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Indeks dolar AS yang mengukur kinerja si greenback terhadap enam mata uang lainnya, terpantau melemah 0,12% ke posisi 107,09. Kendati begitu, Mata Uang Garuda belum mampu mempertahankan penguatannya hari ini.

Dari Negeri Paman Sam, pada Selasa (22/11), Presiden bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Kansas City Esther George memprediksikan bahwa Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga acuan ke tingkat yang lebih tinggi dan menahannya lebih lama agar berhasil memoderasi permintaan konsumen dan menurunkan inflasi yang tinggi.

Menurutnya sejak pandemi, masyarakat telah memiliki tabungan cadangan yang cukup banyak untuk menghadapi inflasi sehingga akan menjaga tingkat inflasi yang tinggi cukup lama.

"Dinamika kelebihan simpanan merupakan faktor kunci yang membentuk prospek output, inflasi, dan tentu saja suku bunga," tuturnya dalam konferensi ekonomi yang diselenggarakan oleh Bank Sentral Chile di Santiago.

"Tabungan yang lebih tinggi tentu saja dapat mengurangi penurunan konsumsi untuk berjaga-jaga dan mungkin diperlukan tingkat bunga yang lebih tinggi untuk beberapa waktu guna meyakinkan rumah tangga untuk mempertahankan tabungan mereka daripada membelanjakannya dan tentu saja menambah tekanan inflasi," tambahnya.

George bukan satu-satunya pejabat The Fed yang memprediksikan bahwa Fed belum akan melonggarkan kebijakan moneternya. Sebelumnya, Presiden Cleveland Loretta Mester juga menilai hal yang serupa. Namun, magtitude kenaikan suku bunga acuan diprediksi akan berkurang.

Kabar baik kembali berhembus di Tanah Air, mayoritas investor ramai memburu Surat Berharga Negara (SBN) yang ditandai dengan turunnya imbal hasil (yield) di hampir seluruh tenor SBN acuan. Hanya SBN tenor 30 tahun yang cenderung dilepas oleh investor, ditandai dengan naiknya yield.

Melansir data dari Refinitiv, SBN tenor 30 tahun naik 2,2 basis poin ke posisi 7,508% pada perdagangan hari ini. Sementara untuk yield SBN berjatuh tempo 10 tahun yang merupakan SBN acuan (benchmark) kembali menurun 4,5 bp menjadi 7,029%.

Di pasar lelang SBN, investor asing kembali memburu SBN atau Surat Utang Negara (SUN) pada hari ini, di mana jumlah penawaran asing mencapai Rp 6,4 triliun.

Pada lelang tersebut, pemerintah menerima penawaran sebesar Rp 30,32 triliun. Jumlah tersebut adalah yang tertinggi dalam lima lelang terakhir.

Dari penawaran yang masuk, pemerintah menyerap utang sebesar Rp 15,20 triliun. Jumlah tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak 13 September 2022 atau dalam lima lelang terakhir.

Penyerapan utang hari ini memenuhi target indikatif yang ditetapkan yakni Rp 10-15 triliun.

Penawaran dari investor asing pada lelang hari ini menembus Rp 6,40 triliun. Jumlah tersebut naik hampir dua kali lipat dibandingkan lelang sebelumnya yang tercatat Rp 3,62 triliun.

Jumlah tersebut juga naik tiga kali lipat dibandingkan pada lelang sebulan sebelumnya yakni 27 September 2022 sebesar Rp 1,7 triliun.

Meski ada kabar baik dari dalam negeri, tampaknya belum mampu menopang laju rupiah hari ini. Hal tersebut terjadi seiring dengan mayoritas mata uang di Asia. Hanya ringgit Malaysia yang sukses menguat terhadap si greenback dan dolar Hong Kong stagnan.

Sementara dolar Taiwan dan yuan China menjadi mata uang di Asia yang terkoreksi paling tajam masing-masing sebesar 0,4% dan 0,2%. Disusul oleh dolar Singapura dan yen Jepang yang tergelincir 0,17% dan 0,12%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Tertekan Hingga Tengah Hari, Mendekati Level Rp 15.000


(aaf/aaf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading