WhatsApp Down, IHSG Ikutan Longsor!

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
25 October 2022 15:38
Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (25/10/2022), setelah sempat mencatatkan penguatan hingga 6 hari beruntun. Penurunan IHSG sendiri berbarengan dengan down-nya aplikasi pengirim pesan WhatsApp.

Menurut data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks bursa saham acuan Tanah Air tersebut ditutup turun tipis 0,07% ke posisi 7.048,38. Bahkan IHSG sempat menyentuh zona psikologis 7.100 pada hari ini.

Pada perdagangan sesi I hari ini, IHSG sempat dibuka menguat 0,3% di posisi 7.074,18. Selang 5 menit setelah dibuka, indeks terpantau melanjutkan penguatan 0,53% ke 7.090,54. Bahkan tidak berlangsung lama setelah dibuka, IHSG sempat menyentuh level 7.108,82, yang menjadi level tertinggi intraday pada hari ini.

Namun setelah menyentuh level tertinggi intraday, pada sekitar pukul 09:30 WIB, IHSG mulai berbalik arah dan pada pukul 09:40 WIB sempat bergerak di zona merah tipis., Kemudian pada pukul 10:00 WIB, IHSG akhirnya menyentuh zona merah hingga akhir perdagangan sesi I.

Pada perdagangan sesi II, pelemahan IHSG pun berlanjut. Tetapi sekitar pukul 14:00 WIB, IHSG sempat kembali bangkit ke zona hijau. Namun setelah itu, pergerakan IHSG cenderung bergelombang dan pada akhirnya ditutup turun tipis pada akhir perdagangan hari ini.

Nilai transaksi indeks pada hari ini mencapai sekitaran Rp 14 triliun dengan melibatkan 24 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,3 juta kali. Sebanyak 245 saham menguat, 283 saham melemah, dan 173 saham mendatar.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling besar nilai transaksinya pada hari ini, yakni mencapai Rp 1,1 triliun. Saham BBRI ditutup melesat 2% ke posisi harga Rp 4.590/unit.

Sedangkan di posisi kedua dan ketiga, ada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang nilai transaksinya masing-masing mencapai Rp 853,8 miliar dan Rp 784,7 miliar.

Saham BUMI ditutup stagnan di posisi Rp 189/unit. Namun untuk saham BBCA berakhir ambles 2,25% menjadi Rp 8.700/unit.

Penurunan IHSG bisa dikatakan wajar setelah sebelumnya melesat dalam 6 hari beruntun dengan total 3,5%. Sehingga terjadi koreksi di perdagangan sesi I dan akhir perdagangan sesi II.

Pergerakan IHSG hari ini berlawan arah dengan pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street yang kembali menguat pada perdagangan Senin waktu setempat.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melonjak 1,34%, S&P 500 melesat 1,19%, dan Nasdaq Composite menguat 0,86%.

Namun di Bursa Asia-Pasifik, pergerakannya pada hari ini cenderung bervariasi. IHSG bergambung dengan indeks Hang Seng Hong Kong yang turun 0,1%, kemudian Shanghai Composite China yang juga turun tipis 0,04%, dan KOSPI Korea Selatan yang juga terkoreksi tipis 0,05%.

Sedangkan indeks Nikkei 225 Jepang melesat 1,02%, Straits Times Singapura menguat 0,26%, dan ASX 200 Australia terapresiasi 0,28%.

Kendati demikian, inflasi dan suku bunga masih tetap mempengaruhi sentimen pasar, tetapi investor saat ini menyambut rilis kinerja keuangan musim ini dan panduan ke depannya.

Untuk suku bunga, seperti diungkapkan pada halaman sebelumnya, pasar melihat ada ruang bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengendurkan laju kenaikan suku bunga.

Jika benar terjadi, maka tentunya akan menjadi kabar baik. Resesi memang hampir pasti terjadi, tetapi kemungkinan tidak akan dalam. Tinggal melihat apakah inflasi akan mulai menurun. Masalahnya jika inflasi masih tetap tinggi, maka The Fed bisa jadi akan terus agresif.

Di lain sisi, di tengah ancaman resesi dunia, daya tarik investasi di Indonesia terbukti masih sangat tinggi. Ini memberikan optimisme perekonomian ke depannya masih akan kuat, investor asing memandang Indonesia sebagai "surga" investasi.

Besarnya investasi yang masuk ke dalam negeri hingga mencatat rekor kenaikan tertinggi. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) kemarin mencatat realisasi investasi sepanjang kuartal III-2022 mencapai Rp 307,8 triliun, tumbuh 42,1% (year-on-year/yoy). Dengan investasi tersebut, tenaga kerja yang terserap sebanyak 325.575 orang.

Merinci lebih jauh dari angka tersebut berdasarkan data BKPM, realisasi penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 169 triliun, atau melesat 63,6% (yoy).

Realisasi investasi tersebut menunjukkan daya tarik Indonesia masih bagus, hal tersebut juga diungkapkan oleh Dana Moneter International (IMF) sebagaimana dinyatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dengan demikian, menjadi sinyal positif bahwa proyeksi ekonomi Indonesia untuk tahun ini sebesar 5% akan menjadi kenyataan dan Indonesia punya harapan bangkit di tengah gelapnya ekonomi global.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Awal Bulan Juni Jelang Data Inflasi, IHSG Bisa Ngegas Lagi?


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading