Mengekor Wall Street, IHSG Sesi I Akhirnya Ditutup Menguat!

Market - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
04 October 2022 12:23
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di menguat pada penutupan perdagangan sesi I Senin (4/10/2022), mengekor bursa saham Amerika Serikat (AS) yang kompak pulih pada awal kuartal IV-2022.

IHSG dibuka menguat 0,5% di posisi 7.044,98 dan ditutup di zona hijau dengan apresiasi 0,8% atau 55,9 poin, ke 7.065,62 pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 11:30 WIB. Nilai perdagangan tercatat naik ke Rp 7,67 triliun dengan melibatkan lebih dari 15 miliar saham yang berpindah tangan 843 kali.

Sejak perdagangan dibuka IHSG sudah bergerak pulih ke zona hijau. Selang 5 menit saja IHSG langsung melesat 1% ke 7.080.1 dan melanjutkan penguatan 1,23% ke 7.095,75 pukul 09:21 WIB. Indeks terpantau konsisten berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan sesi I meskipun sedikit memangkas penguatan.

Level tertinggi berada di 7.101.47 sekitar pukul 09:20 WIB, sementara level terendah berada di 7.045,8 sesaat setelah perdagangan dibuka. Mayoritas saham siang ini terpantau mengalami kenaikan.

Statistik perdagangan mencatat ada 162 saham yang melemah dan 369 saham yang mengalami kenaikan dan sisanya sebanyak 148 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham yang paling besar nilai transaksinya siang ini, yakni mencapai Rp 640,8 miliar. Sedangkan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyusul di posisi kedua dengan nilai transaksi mencapai Rp 521,9 miliar dan saham PT Bank Centrak Asia Tbk (BBCA) di posisi ketiga sebesar Rp 349,1 miliar.

Indeks acuan Amerika Serikat (AS) kompak pulih pada awal kuartal IV-2022, karena imbal hasil (yield) obligasi menurun dari rekor tertingginya. Ini tentunya menjadi sinyal positif bagi indeks bursa Tanah Air.

Indeks Dow Jones ditutup melesat 2,66% ke 29.490,89 dan S&P 500 naik tajam 2,59% ke 3.678,43. Sementara Nasdaq menguat 2,27% ke 10.815,44.

Posisi penutupan indeks Dow Jones menjadi level penutupan terbaiknya sejak 24 Juni 2022, sedangkan posisi penutupan indeks acuan S&P 500 menjadi yang terbaiknya sejak 27 Juli 2022.

Pulihnya bursa Wall Street terjadi setelah yield obligasi tenor 10 tahun menurun dan diperdagangkan sekitar 3,65%, setelah sempat menyentuh rekor tertingginya hingga 4% pekan lalu.

"Ini cukup sederhana pada titik ini,yieldobligasi tenor 10 tahun naik dan ekuitas kemungkinan akan tetap di bawah tekanan, tapi ketika yield turun dan ekuitas akan menguat" tutur Analis Raymond James Travis McCourt dikutip CNBC International.

Bursa saham Wall Street berusaha keluar dari penurunannya selama September 2022, di mana indeks Dow Jones dan S&P 500 mengalami terkoreksi tajam secara bulanan terbesar sejak Maret 2020.

Kendati demikian, investor tetap harus berhati-hati. Sebab, analis memprediksikan bahwa indeks acuan di Wall Street akan pulih terbatas pada tahun ini.

Inflasi masih menjadi momok mengerikan hampir di seluruh negara di dunia. Situasi ini yang bahkan diperkirakan bakal menyeret dunia ke jurang resesi tahun depan. Inflasi negara berkembang saat ini rata-rata sudah di atas 10%. Sedang inflasi negara maju sudah melebihi 8%. Padahal, inflasi di kawasan ini sebelumnya masih sekitar 0%.

Analis memperkirakan The Fed juga masih akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada November, dan berlanjut hingga Desember.

Begitu pula dari dalam negeri, inflasi September menembus 1,17% (month to month/mtm) pada September, tertinggi sejak Desember 2014. Lonjakan inflasi pada September memperpanjang tren historis nya yakni inflasi akan menukik setiap kali ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM subsidi).

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini juga mengumumkan jika inflasi secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus menembus 5,95%.

Angka inflasi ini lebih tinggi dari Polling CNBC Indonesia dari 14 lembaga keuangan menilai, angka inflasi akan melesat rata-rata 1,2% poin persentase secara month-to-month (mtm). Hasil polling juga memperkirakan bahwa angka inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) akan berada di 5,98%.

Ini juga penting dicermati oleh pelaku pasar, inflasi yang meninggi akan mendorong Bank Indonesia (BI) akan terus menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan mendatang demi memerangi inflasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

IHSG Sesi I Menghijau! Kembali Ke Level 7.100


(aum/aum)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading