Terpantau! Ada Sinyal Penguatan Rupiah, Siap Ngegas?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
28 September 2022 07:30
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah sukses bangkit melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa kemarin. Sempat menyentuh Rp 15.169/US$, rupiah sukses menguat tipis 0,03% ke Rp 15.120/US$, dan berpeluang berlanjut pada perdagangan Rabu (28/9/2022).

Penguatan indeks dolar AS yang mulai terhenti membuka ruang penguatan rupiah. Pada perdagangan Selasa indeks dolar AS stagnan di 114,106.

Stagnannya indeks dolar AS terjadi setelah Presiden bank sentral AS (The Fed) wilayah Chicago Charles Evans mengatakan ia sedikit khawatir The Fed menaikkan suku bunga terlalu cepat untuk meredam inflasi.

Meski demikian, Evans mengatakan ia "optimistis dengan hati-hati" melihat perekonomian AS bisa menghindari resesi.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR terus tertekan sejak menembus ke atas rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA50) kisaran Rp 14.890/US$ - Rp 14.900/US$.

MA 50 merupakan resisten kuat, sehingga tekanan pelemahan akan lebih besar ketika rupiah menembusnya. Apalagi rupiah kini sudah menembus Rp 15.090/US$ - Rp 15.100/US$ yang merupakan Fibonacci Retracement 50%.

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

Selama tertahan di atas Fibonacci Retracement 50% tersebut ditembus dan tertahan di atasnya, rupiah berisiko terpuruk semakin jauh. Target pelemahan ke Rp 15.450/US$, yang merupakan Fibonacci Retracement 38,2%.

Untuk hari ini, risiko pelemahan rupiah masih di sekitar Rp 15.170/US$ - Rp 15.200/US$.

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian kembali bergerak naik tetapi belum masuk wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Pola Shooting Star yang dibentuk rupiah kemarin juga menjadi sinyal penguatan. Pola ini merupakan sinyal pembalikan arah setelah tren kenaikan.

Support terdekat berada di kisaran Rp 15.100/US$ - Rp 15.090/US$. Jika ditembus, rupiah berpeluang menguat ke Rp 15.050/US$.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jurus Perry Warjiyo & BI Jaga Rupiah Dari Amukan Dolar AS


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading