Minyak Dunia Melejit 2,63%! Harga BBM Nggak Jadi Turun?

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
28 September 2022 06:57
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo Foto: Ilustrasi: Minyak mengalir keluar dari semburan dari sumur 1859 asli Edwin Drake yang meluncurkan industri perminyakan modern di Museum dan Taman Drake Well di Titusville, Pennsylvania AS, 5 Oktober 2017. REUTERS / Brendan McDermid / File Foto

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia melejit pada perdagangan kemarin. Penguatan ini didukung oleh pembatasan pasokan di Teluk Meksiko, Amerika Serikat, menjelang badai Ian.

Pada Selasa (27/9/2022) harga minyak mentah Brent tercatat US$86,27 per barel, menguat 2,63% dibandingkan harga penutupan hari sebelumnya. Sementara light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) naik 2,33% menjadi US$78,5 per barel.

Produsen minyak lepas pantai AS mengatakan mereka mengawasi jalur Badai Ian sebab ketika badai kuat dapat menutup sekitar 11% produksi minyak di Teluk Meksiko.

Penutupan produksi ini dinilai hanya dapat membantu harga minyak sementara, kata Bob Yawger dari Mizuho di New York. "Barang akan segera kembali, saya akan membayangkan," kata Yawger.

Harga minyak mentah dunia saat ini sensitif terhadap kenaikan suku bunga dan nilai tukar dolar AS, yang mana menjadi penekan hingga mencapai level US$80-an per barel.

"Minyak saat ini berada di bawah pengaruh kekuatan finansial," kata Tamas Varga dari pialang minyak PVM.

Sehingga saat dolar AS menjauhi posisi terkuat dalam 20 tahun terakhir, menjadi dukungan bagi minyak. Minyak dibanderol dengan Greenback sehingga saat dolar melemah akan membuatnya lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Sementara itu penurunan harga minyak dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan spekulasi bahwa OPEC+ dapat melakukan intervensi. Menteri perminyakan Irak mengatakan kelompok itu memantau harga dan tidak menginginkan kenaikan tajam atau keruntuhan.

"Hanya pengurangan produksi oleh OPEC+ yang dapat mematahkan momentum negatif dalam jangka pendek," kata Giovanni Staunovo dan Wayne Gordon dari bank Swiss UBS.

Pasar sedang menunggu laporan inventaris AS terbaru, yang diperkirakan para analis akan menunjukkan peningkatan stok minyak mentah sebesar 300.000 barel.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

BBM Ron 92 Bisa Turun Nih, Harga Minyak Dunia US$78/barel


(ras/ras)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading