Rupiah Makin Nanjak dari Rp 15.000/US$, BI Buka Suara

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
23 September 2022 16:43
Pekerja memperlihatkan uang dolar di salah satu gerai money changer di Jakarta, Senin (4/7/2022).  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata Uang Garuda tercatat mengalami pelemahan dalam enam hari beruntun. Saat ini bahkan sudah berada di atas Rp 15.000/US$. Bank Indonesia (BI) pun buka suara.

Seperti diketahui, rupiah membuka perdagangan hari ini, Jumat (23/9/2022) dengan menguat 0,13% ke level Rp 15.000/US$. Namun tidak bertahan lama langsung berbalik melemah hingga menyentuh Rp 15.042/US$, yang merupakan level terlemah dalam lebih dari dua tahun terakhir.


Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susianto menjelaskan, pasca FOMC the Fed yang menaikan fed fund rate (FFR) 75 basis poin (bps) dan memberikan sinyal tetap hawkish ke depannya, sampai saat ini hampir semua mata uang Asia secara umum masih terus mengalami pelemahan.

The Fed pada Kamis dini hari waktu Indonesia kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 bps menjadi 3% - 3,25%. Sepanjang tahun ini The Fed sudah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 300 basis poin, dan masih akan terus melakukannya hingga tahun depan.

"Kemarin rupiah melemahnya termasuk paling rendah, karena pasca pengumuman BI Rate rupiah sempat mengalami penguatan," jelas Edi dalam keterangannya, Jumat (23/9/2022).

Kenaikan suku bunga BI kemarin lebih tinggi dari konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang mayoritas memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin, sehingga ini mengejutkan pasar.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 September 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 4,25%.

Kendati demikian, kata Edi hari ini melemahnya mata uang di sejumlah negara juga berasal dari rilis data Consumer Confidence atau Kepercayaan Konsumen di Inggris yang menceritakan level terendah baru.

Level terendah baru kepercayaan konsumen di Inggris yakni minus 49 akibat krisis living cost, jauh lebih penurunannya dibandingkan survei yang rata-rata memperkirakan akan menyentuh minus 42.

"Sehingga hal tersebut semakin membangun kekhawatiran krisis ekonomi global. Hal tersebut yg menyebabkan banyak mata uang khususnya di emerging market (termasuk Indonesia) yang mengalami pelemahan," jelas Edi.

Edi bilang, BI akan mengambil langkah triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Triple intervention adalah intervensi yang dilakukan BI pada Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), pasar spot, sampai ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).

"Tentu kami mengawal di pasar melalui triple intervention, untuk smoothing agar tidak terjadi pelemahan yang berlebihan, dan mekanisme pasar tetap terjaga," jelas Edi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Likuiditas Valas Terjaga, BI Yakin Rupiah Tetap Kuat


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading