Bak Roller Coaster, Harga Emas Diramal Naik Turun Pekan Depan

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
23 September 2022 16:55
Pekerja menata perhiasan emas di toko emas Kawasan Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (11/3/2022). Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan hari ini.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi Perhiasan Emas (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas kembali melandai. Pada perdagangan Jumat (23/9/2022) pukul 15:08 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.665,39 per troy ons. Harga emas melemah 0,31%.

Pelemahan sore hari ini membalikkan arah gerak emas yang sempat menguat pada Jumat pagi hari ini. Dalam sepekan, harga emas melemah 0,57% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas menyusut 4,7% sementara dalam setahun melorot 4,4%.

Emas bergerak sangat labil sepanjang pekan ini, terutama karena adanya pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa-Rabu. Emas menguat pada Senin tetapi melemah pada Selasa, menguat kembali pada Rabu dan melemah pada Kamis.



Analis dari Kedia Commodities Ajay Kedia mengatakan pergerakan emas akan volatile ke depan. Pasalnya, pasar kini berekspektasi suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) masih akan bertahan lama.  Sebagai catatan, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps pada Rabu pekan ini,

"Market sudah melakukan priced in dengan kenaikan suku bunga sebesar 75 bps. Karena itulah, harga emas tidak jatuh signifikan. Namun, ekspektasi kenaikan lebih lanjut membuat harga emas sulit naik," tutur Kedia, seperti dikutip dari Reuters.

Kedia memperkirakan titik support emas kini ada di titik US$ 1.650 sementara titik resistance emas ada di US$ 1.720 per troy ons.

Kebijakan hawkish yang dianut mayoritas bank sentral global juga membuat harga emas sulit menguat. Bank sentral AS, Inggris, Eropa, dan Indonesia memberlakukan kebijakan hawkish bulan ini dengan mengerek suku bunga secara signifikan untuk menekan inflasi.

Kenaikan suku bunga biasanya akan melambungkan dolar Amerika Serikat (AS) dan yield surat utang pemerintah AS. Kondisi tersebut akan membuat emas kurang menarik karena semakin mahal. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield surat utang pemerintah AS membuat emas semakin ditinggalkan investor.

Clifford Bennett dari ACY Securities menjelaskan harga emas kemungkinan baru akan menguat signifikan jika perekonomian global memburuk dengan cepat dan drastis.

"Investor global melihat situasi perekonomian di Eropa dan AS mulai bermasalah. Jika perekonomian mereka kolaps maka emas bisa terdongkrak siginifkan," ujar Bennet.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Hati-hati! Meski Menguat Harga Emas Rawan Ambles


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading