BI Bikin Shock, Rupiah Bisa Ke Bawah Rp 15.000/US$ Lagi?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 September 2022 06:40
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Luxury Valuta Perkasa, Blok M, Jakarta, Kamis, 21/7. Rupiah tertekan pada perdagangan Kamis (21/7/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Luxury Valuta Perkasa, Blok M, Jakarta, Kamis, 21/7. Rupiah tertekan pada perdagangan Kamis (21/7/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah melemah 0,13% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 15.015/US$ pada perdagangan Kamis kemarin. Sebelumnya, Mata Uang Garuda sempat menyentuh Rp 15.040/US$ yang merupakan level terlemah dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

Rupiah mampu memangkas pelemahan setelah Bank Indonesia (BI) sekali lagi mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.

Padahal, konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia mayoritas memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin.


"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 September 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 4,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,5%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (22/9/2022).

Meski demikian, dolar AS masih terlalu kuat. Indeksnya pada perdagangan Kamis kembali naik 0,64% dan berada di dekat level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun terakhir. Rupiah pun masih berisiko melemah pada perdagangan Jumat (23/9/2022) 

Secara teknikal, rupiah mengakhiri perdagangan di atas level psikologis Rp 15.000/US$ rupiah mengakhiri perdagangan kemarin di bawahnya.

Rupiah yang disimbolkan USD/IDR terus mengalami tekanan setelah menembus ke atas rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA50) kisaran Rp 14.890/US$ - Rp 14.900/US$.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

MA 50 merupakan resisten kuat, sehingga tekanan pelemahan akan lebih besar ketika rupiah menembusnya.

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian bergerak dan sudah masuk wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Level psikologis Rp 15.000/US$ kini menjadi support terdekat selama tertahan di atasnya rupiah berisiko melemah ke Rp 15.030/US$ - Rp 15.050/US$.

Penembusan ke atas level tersebut akan membawa rupiah menuju Rp 15.090/US$ - Rp 15.100/US$ yang merupakan Fibonacci Retracement 50%.

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

idrGrafik: Rupiah 1 Jam
Foto: Refinitiv

Sementara melihat indikator stochastic yang masuk wilayah overbought pada grafik harian, begitu juga pada grafik 1 jam, ada peluang rupiah bisa menguat.

Jika mampu kembali ke bawah 15.000/US$, rupiah berpeluang menguat ke Rp 14.980/US$ sebelum menuju Rp 14.950/US$ - Rp 14.930/US$.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jurus Perry Warjiyo & BI Jaga Rupiah Dari Amukan Dolar AS


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading