BI: Rupiah Melemah, Tapi Lebih Baik dari Ringgit & Rupee

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
22 September 2022 19:28
Pengunjung melihat Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022 (Uang TE 2022) dalam acara Festival Rupiah Berdaulat Bank Indonesia (FERBI) 2022 di Jakarta, Jumat (19/8/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Pengunjung melihat Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022 (Uang TE 2022) dalam acara Festival Rupiah Berdaulat Bank Indonesia (FERBI) 2022 di Jakarta, Jumat (19/8/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan nilai tukar pada 21 September 2022 terdepresiasi 1,03% (point to point), dibandingkan dengan akhir Agustus 2022.


Perkembangan nilai tukar yang tetap terjaga tersebut, kata Perry, ditopang oleh pasokan valas domestik dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, serta langkah-langkah stabilisasi BI.

"Nilai tukar rupiah sampai dengan 21 September 2022 terdepresiasi 4,97% (year to date/ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya," jelas Perry dalam konferensi pers, Kamis (22/9/2022).

"Seperti India yang mengalami depresiasi 7,05%, Malaysia 8,51%, dan Thailand 10,07%," kaya Perry lagi.

Ke depan, BI mengklaim akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah ini memang cukup tinggi.

Kendati demikian tekanan yang tinggi terhdap nilai tukar, bukan hanya terjadi pada rupiah saja, tapi hampir seluruh mata uang negara secara global.

"Ini karena dolar indeks itu naik pesat sekali. Jadi minggu lalu di bawah 107-108 sekarang sudah 111,8 dan ini menggambarkan indeks yang mata uang dari dolar AS ke major currency ke poundsterling, yen dan seterusnya," jelas Destry.

Menurut dia, dengan adanya penguatan dolar AS secara general ini menyebabkan mata uang lainnya mengalami pelemahan atau depresiasi.

"Dibandingkan mata uang negara lain kita cukup manageable kita per posisi 21 September kemarin kita terdepresiasi 4,97% ytd dari akhir tahun lalu sampai akhir tahun ini," ujar Destry lagi.

Seperti diketahui, rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (22/9/2022). Meski demikian, rupiah menjadi mata uang terbaik di Asia setelah mampu memangkas pelemahan setelah Bank Indonesia (BI) memberikan kejutan.

Melansir data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di Rp 15.015/US$, melemah 0,13% di pasar spot. Sebelumnya, Mata Uang Garuda sempat menyentuh Rp 15.040/US$ yang merupakan level terlemah dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

Meski melemah, rupiah menjadi mata uang terbaik di Asia pada hari ini. Sebab pelemahannya paling kecil. Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia hingga pukul 15:09 WIB.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Dekati Rp 15.000/US$, Begini Kondisi Money Changer


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading