Harga SBN Melemah Setelah BI Kembali Memberikan Kejutan

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
22 September 2022 18:55
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (22/9/2022), setelah pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) dan Bank Indonesia.

Mayoritas investor melepas SBN pada hari ini, ditandai dengan naiknya imbal hasil (yield) di hampir seluruh tenor. Hanya SBN tenor 3 tahun yang ramai diburu oleh investor dan ditandai dengan turunnya yield.

Melansir data dari Refinitiv, yield SBN tenor 3 tahun turun 1,2 basis poin (bp) ke posisi 6,226% pada perdagangan hari ini.


Sementara untuk yield SBN berjatuh tempo 10 tahun yang merupakan SBN acuan (benchmark) negara berbalik naik 3,3 bp menjadi 7,228%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) sekali lagi memberikan kejutan dengan mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 4,25%. Padahal, konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia mayoritas memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 September 2022 memutuskan untuk menaikkan BI-7 Day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 4,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,5%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers.

Keputusan ini merupakan sebagai langkah untuk menurunkan ekspektasi inflasi serta memperkuat stabilisasi nilai rupiah.

Pada bulan lalu, BI juga memberikan kejutan dengan menaikkan suku bunga 25 bp. Padahal konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI masih akan menahan suku bunga acuannya.

Pada pengumuman hasil RDG hari ini, BI juga dilakukan untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat.

"Bank Indonesia juga terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi," kata Perry, dalam paparan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI, Kamis (22/9/2022).

Sementara itu dari AS, yield obligasi pemerintah (US Treasury) terpantau cenderung naik pada hari ini, di mana untuk yield Treasury berjangka pendek yakni tenor 2 tahun sudah berada di atas kisaran 4%.

Dilansir dari CNBC International, yield Treasury tenor 2 tahun melonjak 9,9 bp menjadi 4,094%, di mana level ini merupakan yang tertinggi 15 tahun terakhir atau sejak tahun 2007.

Yield Treasury jangka pendek paling sensitif terhadap kebijakan The Fed sehingga jika The Fed masih bersikap hawkish, maka yield Treasury tersebut cenderung akan terus menanjak.

Sedangkan untuk yield Treasury berjangka menengah yang juga menjadi benchmark obligasi pemerintah Negeri Paman Sam, yakni Treasury berjatuh tempo 10 tahun juga naik 2,2 bp menjadi 3,534%.

Selisih antara yield Treasury tenor 2 tahun dengan 10 tahun pun semakin melebar, di mana kini selisihnya mencapai 56 bp.

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pada dini hari tadi waktu Indonesia memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 bp menjadi 3%-3,25%.

Meski sudah sesuai dengan ekspektasi pasar, tetapi pelaku pasar makin khawatir setelah The Fed mengindikasikan sikap hawkish-nya untuk waktu yang cukup lama.

The Fed juga mengindikasikan bahwa pihaknya berencana untuk tetap agresif, menaikkan suku bunga menjadi 4,4% pada tahun depan. Angka ini naik dari pada proyeksi sebelumnya di Juni lalu yang diperkirakan akan mencapai 3,8%.

Inflasi global yang semakin liar memaksa mayoritas bank sentral utama dunia mengetatkan kebijakan moneternya dan menaikkan suku bunga secara tajam. Hal ini pada akhirnya berpotensi menyebabkan resesi, dengan sejumlah organisasi besar seperti Bank Dunia telah mewanti-wanti.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Yield SBN Mulai Melemah, tapi SBN Tenor 10 Tahun Masih di 7%


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading