Demi Dua Hal Ini, BI Agresif Naikkan Suku Bunga Jadi 4,25%

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
22 September 2022 17:20
FILE PHOTO - The logo of Indonesia's central bank, Bank Indonesia, is seen on a window in the bank's lobby in Jakarta, Indonesia September 22, 2016.  REUTERS/Iqro Rinaldi/File Photo Foto: REUTERS/Iqro Rinaldi

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 50 bps menjadi 4,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,5% dan suku bunga Lending Facility sebesar 5%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah front loaded, preemptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3 plus minus 1%. pada paruh kedua tahun 2023.


"Serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat," jelas Perry dalam konferensi pers, Kamis (22/9/2022).

Perry merinci, kenapa harus front loaded, preemptive dan forward looking, karena dampak kebijakan moneter, khususnya kebijakan suku bunga terhadap inflasi perlu waktu, kurang lebih empat kuartal.

"Oleh karena itu, perlu kita lakukan sejak sekarang agar ekspetasi inflasi ini yang sudah meningkat, bisa segera turun. Agar dampak second around tidak terlalu tinggi, sehingga dampak inflasi bisa lebih terkendali," jelas Perry.

"Dengan mempertimbangkan waktu jeda sekitar empat kuartal dari kenaikan suku bunga terhadap dampak kepada inflasi dan itu lah pertimbangan langkah yang kita lakukan," kata Perry melanjutkan.

Tekanan inflasi, Perry mengungkapkan inflasi meningkat didorong oleh masih tingginya harga energi dan pangan global, serta dampak dari penyesuaian harga BBM di dalam negeri.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2022 tercatat sebesar 4,69% (year on year/yoy) seiring dengan meningkatnya inflasi kelompok harga diatur pemerintah (administered price) yang sebesar 6,84% (yoy) dan inflasi inti yang menjadi 3,04% (yoy).

Sementara itu, inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) menurun menjadi 8,93% (yoy) sejalan dengan peningkatan pasokan dari daerah sentra produksi.

Tekanan inflasi IHK diperkirakan meningkat, didorong oleh penyesuaian harga BBM subsidi di tengah masih tingginya harga energi dan pangan global. Inflasi inti dan ekspektasi inflasi diperkirakan meningkat akibat dampak lanjutan (second round effect) dari penyesuaian harga BBM dan menguatnya tekanan inflasi dari sisi permintaan.

BI memperkirakan laju inflasi nasional akan mengalami kenaikan hingga 5,89% secara yoy, imbas dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal bulan ini, sementara akhir tahun bisa di atas 6%.

"Penelitian BI ini menunjukkan dampak second round, berlangsung kurang lebih tiga bulan," ujar Perry.

Perry mengatakan, untuk sisa akhir tahun ini inflasi akan meningkat di kisaran 1,9% karena kenaikan harga BBM yang dikhawatirkan memicu kenaikan harga barang dan angkutan umum. Hal ini, memang tidak terelakkan.

Berbagai perkembangan tersebut diperkirakan mendorong inflasi tahun 2022 melebihi batas atas sasaran 3,0±1%, dan karenanya diperlukan sinergi kebijakan yang lebih kuat antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan Bank Indonesia baik dari sisi pasokan maupun sisi permintaan untuk memastikan inflasi kembali ke sasarannya pada paruh kedua 2023.

"Bulan ini SPH menunjukkan 5,8% ada tambahan kenaikan beberapa bulan dan akhir tahun sedikit lebih tinggi 6%," kata Perry lagi.

Adapun langkah BI menaikkan suku bunga kebijakan 50 bps, kata Perry juga sebagai langkah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, yang selama ini dilakukan dengan intervensi di pasar valas, baik spot atau Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

Perry menjelaskan, stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Nilai tukar pada 21 September 2022 terdepresiasi 1,03% (point to point/ptp) dibandingkan dengan akhir Agustus 2022.

Nilai tukar Rupiah sampai dengan 21 September 2022 terdepresiasi 4,97% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 7,05%, Malaysia 8,51%, dan Thailand 10,07%.

"Dengan kenaikan BI rate tentu saja kita harapkan nilai tukar rupiah akan kembali ke fundamentalnya karena current account deficit sangat rendah, kondisi neraca pembayaran sangat baik. Mestinya nilai tukar rupiah itu bukan melemah, tapi menguat," jelas Perry.

"Oleh karena itu langkah kebijakan suku bunga yang front loaded dan memperkuat langkah intervensi stabilisasi nilai tukar rupiah," kata Perry lagi.

Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Kuat Hadapi Tekanan Global?


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading