Tunggu BI, Rupiah Jeblok ke Level Terlemah 2 Tahun

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 September 2022 13:50
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) siang ini. Pelaku pasar tentunya menanti apakah suku bunga akan kembali dinaikkan, dan jika dinaikkan seberapa besar.

Jelang pengumuman tersebut, rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS), tetapi mampu menguat melawan dolar Singapura dan Australia.

Rupiah sempat jeblok hingga 0,3% melawan dolar AS ke Rp 15.040/US$, yang merupakan level terlemah dalam lebih dari 2 tahun terakhir, tepatnya sejak 6 Mei 2020. Posisi rupiah membaik, pada pukul 13:00 WIB berada di Rp 15.022/US$, melemah 0,18%.


Di saat yang sama, rupiah menguat tipis kurang dari 0,1% melawan dolar Singapura ke Rp 10.575/SG$ dan 0,3% ke Rp 9.914/AU$.

BI hari ini akan mengumumkan hasil RDG, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memproyeksikan BI akan menaikkan suku bunga acuan pada bulan ini.Dari 14 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus tersebut, semuanya kompak memperkirakan kubu MH Thamrin akan menaikkan suku bunga acuan.

Sebanyak 12 lembaga/institusi memperkirakan bank sentral akan mengerek BI7DRR sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4,00% sementara dua lembaga/institusi memproyeksi kenaikan BI7DRR sebesar 50 bps menjadi 4,25%.

Ekspektasi tersebut membuat rupiah menguat melawan dolar Singapura dan Australia. Tetapi melawan dolar AS rupiah masih tertekan. Sebabnya, The Fed yang masih akan terus menaikkan suku bunga dengan agresif.

The Fed dini hari tadi menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 3% - 3,25%, serta menegaskan sikap agresifnya.

Suku bunga The Fed kini berada di level tertinggi sejak awal 2008.

"FOMC (Federal Open Market Committee) sangat bertekad untuk menurunkan inflasi menjadi 2%, dan kami akan terus melakukannya sampai pekerjaan selesai," kata ketua The Fed, Jerome Powell, sebagaimana dilansir CNBC International.

The Fed kini melihat suku bunga akan mencapai 4,6% (kisaran 4,5% - 4,75%) di tahun depan. Artinya, masih akan ada kenaikan 150 basis poin dari level saat ini.
Bahkan, beberapa pejabat The Fed melihat suku bunga berada di kisaran 4,75 - 5% di 2023, sebelum mulai turun di 2024.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jurus Perry Warjiyo & BI Jaga Rupiah Dari Amukan Dolar AS


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading