Efek 'Super Thursday', Rupiah Makin Dekat Rp 15.000/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 September 2022 09:13
Pekerja memperlihatkan uang dolar di salah satu gerai money changer di Jakarta, Senin (4/7/2022).  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan ini akan ada 'Super Thursday', di mana ada 3 bank sentral utama dunia yang akan mengumumkan kebijakan moneter. Bank Indonesia (BI) dan beberapa bank sentral lainnya juga melakukan hal yang sama.

Alhasil, rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awak perdagangan Senin (19/9/2022), semakin dekat dengan Rp 15.000/US$. Maklum saja, bank sentral AS (The Fed) menjadi salah satu yang akan mengumumkan kenaikan suku bunga.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di Rp 14.950/US$, sama persis dengan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Tetapi tidak lama rupiah melemah 0,2% ke Rp 14.980/US$.

The Fed hampir pasti akan menaikkan suku bunga cukup besar, antara 75 basis poin sampai 100 basis poin menjadi 3,25% - 3,5%. Adanya kemungkinan kenaikan suku bunga 100 basis poin tersebut membuat rupiah sulit menguat.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pasar melihat ada probabilitas sebesar 18% The Fed akan menaikkan 100 basis poin pada Kamis (22/9/2022) dini hari waktu Indonesia. Sementara probabilitas sebesar 82% untuk kenaikan 75 basis poin.

Jika The Fed menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin, bisa menjadi indikasi The Fed melihat inflasi masih akan terus menanjak atau belum mencapai puncaknya.

Tidak hanya The Fed, bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) dan bank sentral Swiss (SNB) juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dan 75 basis poin.

Keputusan tersebut tentunya akan mempengaruhi pergerakan pasar mata uang.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) juga akan mengumumkan suku bunga di hari yang sama.

Meski BI berulang kali menegaskan tidak merespon kenaikan suku bunga The Fed, tetapi jika rupiah terpuruk maka BI tentunya akan bertindak juga guna menjaga stabilitas. Apalagi, pelemahan rupiah berisiko mengakselerasi inflasi yang bisa berdampak buruk bagi perekonomian.

Konsensus di Trading Economics menunjukkan BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jurus Perry Warjiyo & BI Jaga Rupiah Dari Amukan Dolar AS


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading