Bakal Jadi Raksasa Gula RI, Ini Kebun Gula Milik Sugar Co!

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
14 September 2022 10:08
FILE PHOTO: Workers spray fertilizer in a sugar cane field in Zacatepec de Hidalgo, in Morelos state, Mexico, May 31, 2017.   REUTERS/Edgard Garrido/File Photo                      GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD Foto: REUTERS/Edgard Garrido

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sebelumnya mengumumkan pendirian Palm Co sebagai perusahaan spin-off PTPN untuk komoditas kelapa sawit, Kementerian BUMN RI kembali kini mulai mengkonsilasikan perusahaan perkebunan tebu dalam satu entitas bernama Sugar Co atau PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).

Konsolidasi ini dilakukan salah satunya agar perusahaan dapat fokus mengelola bisnis dengan baik, karena tidak perlu pusing memikirkan komoditas lain. Sebelumnya perusahaan perkebunan milik BUMN pendiriannya dipisahkan berdasarkan letak geografis yang kini totalnya berjumlah 14 dan tersebar di seluruh Indonesia.

Sebelum menjadi 14 perusahaan, jumlah sebaran perusahaan perkebunan lebih granular lagi, bahkan lebih dari 30. Upaya konsolidasi bisnis sebenarnya telah dilakukan dengan menunjuk PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) sebagai induk holding.

Akan tetapi di bawah holding perkebunan PTPN III, anak usaha masih bergerak dan menjalankan bisnis untuk beberapa produk komoditas perkebunan.

Pendirian Sugar Co dan Palm Co tampaknya menjadi upaya pemerintah agar anak usaha tidak lagi keteteran mengurusi banyak komoditas serta tetek bengeknya sehingga mampu memberikan capaian kinerja yang lebih baik.

Hingga saat ini, Wakil Menteri BUMN I Pahala Mansury mengatakan dari semua perusahaan yang bergerak di sektor agribisnis, ada tiga jenis bisnis utama yang akan dijalankan, yaitu Palm Co sub perkebunan sawit, Sugar Co di perkebunan tebu dan Supporting Co yang merupakan perusahaan yang mendukung dua perusahaan tersebut.

Untuk Sugar Co, penggabungan aset-aset perusahaan perkebunan tebu milik PTPN dilakukan atas PTPT II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII dan PTPN XIV.

"Semuanya akan kita gabungan dalam satu perusahaan. Supaya mereka bisa mengembangkan luas lahan sesuai dengan arahan Presiden. Jumlah lahan yang akan ditanami tebu oleh Sugar Co seluas 700 ribu hektare," kata Pahala.

Masih belum disebutkan apakah akan ada konsolidasi baru untuk komoditas lain yang dikelola oleh PTPN seperti karet, kakao atau teh.

Luas Kebun Akan Mencapai 700 Ribu Hektar

Saat ini lahan tebu yang dimiliki PTPN seluas 153 ribu hektar, artinya akan dilakukan penambahan luas lahan lima kali lipat dari luas lahan saat ini. Lokasi penambahan lahan perkebunan tebu tersebut sebagian besar di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

Data yang dihimpun oleh Tim Riset CNBC Indonesia dari Laporan Tahunan tujuh PTPN yang aset perkebunan tebunya akan dilebur, diketahui total luas lahan kebun tebu mencapai 158 ribu hektar dan tersebar di tiga pulau.

Sebaran terbesar berada di provinsi Jawa Timur, yang mana terdapat tiga PTPN yang beroperasi yakni PTPN X, XI dan XII. Luas area kebun tebu di provinsi tersebut mencapai 106 hektar atau sekitar dua pertiga total luas kebun tebu eksisting saat ini.

Sementara itu jika ditambah luas kebun tebu PTPN IX yang berlokasi di Jawa Tengah, maka jumlah kebun tebu milik BUMN sebesar 76% berlokasi di Pulau Jawa. Adapun luas kebun tebu yang berlokasi di pulau Sumatera sebesar 16% dan 8% sisanya berada di pulau Sulawesi.

Penambahan luas lahan kebun tebu Sugar Co akan dilakuan secara bertahap. Hingga akhir 2022, luas lahan kebun tebu Sugar Co akan mencapai 153 hektar. Pada 2023 ditargetkan luas lahan akan tambah menjadi 200 ribu hektar, hingga akhirnya mencapai 700 ribu pada tahun 2028.

Bisa Swasembada Gula?

Dengan luas lahan perkebunan tebu 700 ribu hektar, Indonesia diperkirakan akan bisa swasembada gula, tetapi hanya untuk konsumsi rumah tangga saja dan belum bisa sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan gula industri.

Selain itu, Sugar Co juga akan dapat memenuhi kebutuhan ethanol B5 dan B10, sebagai bahan campuran bahan bakar minyak (BBM).

Data Kementerian Perindustrian mencatat pada tahun 2021, produksi gula nasional mencapai 2,35 juta ton yang terdiri dari produksi pabrik gula BUMN sebesar 1,06 juta ton dan pabrik gula swasta sebesar 1,29 juta ton. Sementara itu, kebutuhan gula tahun 2022 sendiri nyaris mencapai tiga kali lipatnya atau sekitar 6,48 juta ton,

"Kemenperin sedang berupaya untuk meminimalkan gap jumlah produksi gula kristal putih. Oleh karenanya, untuk memenuhi jumlah kebutuhan yang meningkat, diperlukan produktivitas yang tinggi. Hal ini sesuai arahan Bapak Presiden agar produksi gula konsumsi bisa memenuhi kebutuhan masyarakat," sebut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang awal Agustus lalu.

Dalam Laporan Tahunan 2020 tujuh perusahaan perkebunan yang asetnya akan digabung, diketahui bahwa produktivitas kebun tebu masih cukup bervariasi mulai dari 53 hingga 91 ton per hektar.

Selain PTPN IX yang tidak mengungkapkan produktivitasnya, catatan terendah dibukukan oleh dua perusahaan perkebunan di Sumatera. Sedangkan yang tertinggi dicatatkan oleh PTPN XII yang berlokasi di Jawa Timur.

Total produksi gula ketujuh perusahaan tersebut mencapai 673 ribu ton atau hanya 73% dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) senilai 927 ribu ton.

Jawa Timur masih menjadi lumbung utama gula nasional yang diproduksi BUMN, dengan dua perusahaan yang memiliki lahan terbesar masing-masing mampu memproduksi lebih dari 230 ribu ton gula.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI Bakal Punya BBM Kualitas Tinggi Lewat PTPN, Emang Bisa?


(fsd/fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading