Ssstt, Ada Gosip! Salim Dikabarkan Masuk ke Bumi Resources

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
05 September 2022 15:43
Situasi di site BUMI, PT Kaltim Prima Coal (KPC), Sangatta, Kalimantan Timur Foto: Situasi di site BUMI, PT Kaltim Prima Coal (KPC), Sangatta, Kalimantan Timur

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana menggelar aksi korporasi Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau dikenal private placement (PP) dalam jumlah jumbo untuk membayar utang.

BUMI berencana menerbitkan 200 miliar saham Seri C baru di harga Rp 120 dalam aksi korporasi tersebut. Nilai pendanaan yang diperoleh mencapai Rp 24 triliun digunakan untuk melakukan penyelesaian kewajiban perseroan berupa pembayaran utang PKPU kepada kreditur PKPU.

Selentingan kabar di pasar menyebut, Grup Salim juga masuk ke entitas usaha ini. Salim masuk dengan menyerap saham yang diterbitkan BUMI melalui aksi korporasinya itu.


Direktur BUMI Dileep Srivastava belum memberikan komentarnya terkait rumor tersebut. Namun, berdasarkan prospektus ringkas yang baru saja dirilis, pihak yang terafiliasi dari pemegang saham pengendali perseroan menjadi pihak yang menyerap private placement BUMI.

Sebelumnya, kabar masuknya Grup Salim ke PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga santer terdengar. Salim kabarnya masuk melalui Emirates Tarian Global yang saat ini memiliki 25,10% saham BRMS. Sedang BUMI sendiri memiliki 4,88% saham BRMS.

Efek Dilusi

Adapun dampak dari adanya aksi private placement tersebut akan memperkuat struktur permodalan perseroan dengan penurunan jumlah dan rasio utang.

Dengan asumsi kurs Rp 15.000/US$, maka BUMI mendapatkan dana senilai US$ 1,6 miliar. Dana dari PP akan cukup untuk melunasi PKPU sebesar US$ 1,54 miliar sehingga jumlah kewajiban BUMI tersisa US$ 1,9 miliar.

Setelah aksi korporasi, persentase kepemilikan saham seluruh investor akan terdilusi sampai dengan sebesar-besarnya 58,8%.

Penguatan struktur permodalan ini dilakukan setelah perusahaan mencatatkan kinerja keuangan yang fantastis ditopang oleh tingginya harga komoditas. Laba bersih BUMI melesat 8.771% secara tahunan menjadi US$ 167,67 juta (Rp 2,52 triliun) pada semester I-2022, dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai US$ 1,89 juta. Lonjakan laba ini dikontribusikan oleh peningkatan pendapatan 129,62% secara tahunan menjadi US$ 968,69 juta (Rp 14,53 triliun).

Apakah Saham BUMI Layak Beli?

Analis dari Samuel Sekuritas Indonesia (kode broker: IF), Jonathan Guyadi dan Prasetya Gunadi, memberikan rekomendasi beli atas saham emiten batu bara ini.

Analis IF mencatat bahwa masuknya investor strategis lewat private placement tidak hanya memperkuat struktur permodalan, tetapi juga meningkatkan kinerja bottom liner perusahaan, khususnya laba per saham dasar (EPS).

Analis tersebut menyebut dana sisa hasil aksi korporasi dikurangi pembayaran PKPU dapat meningkatkan EPS perusahaan hingga 15%. Tidak hanya itu analis IF juga percaya BUMI dapat membalikkan keadaan menjadi net cash company tahun 2023. Terminologi net cash sendiri digunakan untuk menggambarkan kondisi likuiditas di mana kas dan setara kas perusahaan dapat membayarkan seluruh liabilitas.

Proyeksi Samuel sekuritas menyebut laba bersih perusahaan tahun akan mencapai US$ 568 juta, dengan asumsi harga jual batu bara di bawah panduan yang diberikan oleh perusahaan. Ke depannya pendapatan dan laba perusahaan diproyeksikan turun, karena harga batu bara tidak diharapkan selamanya akan tinggi seperti saat ini.

Dalam risetnya, Samuel yakin bahkan konsumsi batu bara global akan tetap tinggi tahun depan, khususnya akibat tensi geopolitik dan gelombang panas yang terjadi di China yang meningkatkan permintaan. Harga batu bara juga diharapkan masih akan tinggi hingga tahun 2023.

Analis juga memberikan catatan terkait potensi dan ancaman dari batu bara Rusia apabila diembargo penuh. Saat ini sejumlah negara Eropa memutuskan untuk memperpanjang usia PLTU akibat krisis energi yang sedang berlangsung. Selain produsen utama gas ke Eropa, Rusia juga berkontribusi atas 40% batu bara yang diimpor oleh negara Uni Eropa. Artinya embargo total akan berpotensi bagi naiknya harga batu bara global.

Akan tetapi dampak negatif juga akan dirasakan sejumlah emiten batu bara Indonesia, khususnya BUMI yang merupakan eksportir utama batu bara RI ke India. Hal ini karena India dapat saja lebih memilih batu bara Rusia karena kualitas yang jauh lebih bagus dan potensi harga terdiskon signifikan akibat embargo. Saat ini jumlah batu bara dari Rusia ke India juga sudah bertambah hingga mencapai level tertinggi.

Tantangan utama terakhir adalah terkait perubahan aturan yang dapat mengikis kinerja laba perusahaan. BUMI yang memiliki konsesi tambang batu bara Arutmin dan KPC baru saja diperpanjang izinnya oleh pemerintah. Saat ini perusahaan memegang IUPK dengan kenaikan royalti bervariasi dari skema awal PKP2B yang memiliki royalti tetap 13,5%. Dalam skema IUPK baru tarif royalti paling kecil yang dibayarkan adalah 14% dengan terbesar dapat menapai 28% untuk ekspor dengan harga di atas US$ 100/ton.

Samuel Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 305/saham. Menggunakan harga penutupan pekan lalu, potensi kenaikan hingga target harga tercapai adalah 71,3%.

TIM RISET CNCB INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Kembali Memanas, Saham BUMI Lanjut Naik Nih?


(fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading