Dihajar Bos The Fed, Rupiah Tumbang Tak Berdaya

Market - Putra, CNBC Indonesia
03 September 2022 09:15
Ilustrasi dolar Amerika Serikat (USD). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (USD). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah cenderung tak berkutik di hadapan dolar AS pekan ini. Mata uang Garuda harus mengalami depresiasi sepekan terakhir.

Di pasar spot, rupiah melemah 0,54% di hadapan dolar AS dan ditutup di Rp 14.895/US$. Di saat yang sama indeks dolar AS juga menguat lebih dari setengah persen dan mencicipi posisi 109,53.

Ada beberapa kejadian yang turut menggerakkan dolar AS dan mata uang negara di dunia dalam sepekan terakhir.

Pasar masih terus dibayangi dengan pernyataan bos besar The Fed Jerome Powell dalam Simposium Tahunan Jackson Hole pekan lalu soal arah kebijakan suku bunga bank sentral AS tersebut.

Apa yang disampaikan oleh Jay Powell kurang lebih memberi sinyal bahwa ke depan ruang untuk kenaikan suku bunga acuan masih terbuka.

The Fed bersiap untuk mengambil kebijakan yang cukup restriktif untuk mengembalikan inflasi ke kisaran target 2%, meskipun harus berdampak negatif untuk rumah tangga dan pelaku bisnis.

Dolar AS pun merespons garang pernyataan The Fed tersebut. Mata uang negara lain termasuk rupiah pun tumbang dibuatnya.

Dari dalam negeri, pasar saham kembali mencatatkan inflow dana asing cukup jumbo. Dalam sepekan asing net buy senilai Rp 1,88 triliun di pasar reguler.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan yang dialami pasar Surat Berharga Negara (SBN). Asing justru net sell sebesar Rp 4,49 triliun pada periode 29 Agustus - 1 September di pasar SBN.

Dengan outflow dari pasar SBN yang lebih besar dari inflow di pasar saham, secara neto, pasar keuangan domestik masih mencatatkan aliran modal keluar lebih dari Rp 2,5 triliun.

Kabar baik datang dari data inflasi yang diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin lusa (1/9/2022).

Di bulan Agustus 2022, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,21% secara month to month. Laju inflasi tahunan berada di 4,69% year on year (yoy). Angka aktual inflasi lebih rendah dari perkiraan konsensus yang memprediksi inflasi sebesar 4,9% yoy.

Deflasi diakibatkan oleh penurunan harga pangan dan semakin membaiknya pasokan domestik. Namun ke depan, ancaman tingginya inflasi di dalam negeri masih ada.

Tekanan inflasi yang tinggi akan terjadi jika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM subsidi. Pemerintah mengalami dilemma.

Di satu sisi, jika harga BBM dibiarkan tetap maka beban subsidi akan bengkak. Apalagi kuota solar dan Pertalite subsidi diperkirakan habis di bulan Oktober 2022.

Namun di sisi lain ketika harga BBM subsidi dinaikkan maka inflasi akan naik dan Bank Indonesia (BI) yang melihat tekanan inflasi yang kencang akan mengambil kebijakan ketat dengan menaikkan suku bunga acuan.

Artikel Selanjutnya

Rupiah Nyaris Rp 15.000/US$, Begini Suasana Money Changer


(trp/trp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading