Sempat Anjlok 1,31%, IHSG Pangkas Penurunan Hingga Sisa 0,69%

Market - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
29 August 2022 11:47
Ilustrasi Bursa (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Ilustrasi Bursa (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan sesi I Senin (29/8/2022). Investor tengah merespon isi pidato Jerome Powell di simposium Jackson Hole pada Jumat (26/8/2022) malam waktu Indonesia yang membuat pelaku pasar ketar-ketir.

IHSG dibuka ambles di posisi 7.057,39 dan ditutup di zona merah dengan koreksi 0,69% atau 49,14 poin ke 7.086,11 pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 11:30 WIB. Nilai perdagangan tercatat turun ke Rp 6,76 triliun dengan melibatkan lebih dari 17 miliar saham.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Sejak perdagangan dibuka IHSG sudah berada di zona merah, pukul 09:03 WIB indeks melanjutkan perlemahan 1,48% ke 7.030. Pada perdagangan sesi I ini, IHSG resmi keluar dari zona psikologisnya di 7.100 dan konsisten berada di zona merah hingga penutupan perdagangan.

Level tertinggi berada di 7.106,42 sesaat setelah perdagangan dibuka dan level terendah berada di 7.015,35 sekitar pukul 09:05 WIB. Mayoritas saham siang ini melemah yakni sebanyak 382 unit, sedangkan 153 unit lainnya menguat, dan 148 sisanya stagnan.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi saham yang paling besar nilai transaksinya hari ini, yakni mencapai Rp 587,1 miliar. Sedangkan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menyusul di posisi kedua dengan nilai transaksi mencapai Rp 315,8 miliar dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di posisi ketiga sebesar Rp 276,9 miliar.

Pasar keuangan Tanah Air tengah diwarnai beberapa sentimen dari mancanegara maupun dalam negeri. Mulai dari simposiun Jackson Hole di mana ketua bank sentral Amerika Serikat (AS), Jerome Powell memberikan pidato pada acara tahunan tersebut hingga isu kenaikan harga BBM.

Isi pidato Powel begitu disorot dan berhasil membuat pasar ketar-ketir. Pasalnya, Powell menyampaikan komitmen tegasnya untuk menghentikan inflasi, sekaligus memperingatkan bahwa ia mengharapkan The Fed untuk terus menaikkan suku bunga dengan cara yang akan menyebabkan "kesakitan" pada ekonomi AS.

Dalam pidatonya Powell menegaskan bahwa The Fed akan "menggunakan alat kami dengan paksa" untuk menurunkan inflasi yang masih mendekati level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun.

Bahkan dengan serangkaian empat kenaikan suku bunga berturut-turut dengan total 2,25 poin persentase, Powell mengatakan ini tidak akan berhenti bersikap keras, meskipun suku bunga acuan mungkin berada di sekitar area yang dianggap tidak stimulatif atau membatasi pertumbuhan.

Komentar Powell tersebut membuat bursa saham AS, Wall Street kembali berjatuhan. Pernyataan itu juga muncul di tengah perkiraan pasar akan tanda-tanda bahwa inflasi mungkin telah mencapai puncaknya.

Tetapi, pejabat The Fed menduga bahwa tanda-tanda pelandaian inflasi belum akan terjadi dalam waktu dekat dan inflasi belum mencapai puncaknya. Alhasil, harapan Powell akan sedikit mengendurkan kenaikan suku bunga pun sirna, resesi Negeri Paman Sam semakin di depan mata.

"Memulihkan stabilitas harga kemungkinan membutuhkanstanceyang ketat dalam waktu yang lama. Catatan sejarah sangat menentang pelonggaran kebijakan moneter yang prematur," kata Powell dalam acara simposium Jackson Hole, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (26/8/2022) lalu.

Di sisi lain, inflasi dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) dan inflasi PCE (personal consumption expenditure), menunjukkan adanya penurunan pada Juli lalu, di mana sebagian besar karena penurunan tajam dalam biaya energi.

Namun, Powell sudah menyatakan pasar tenaga kerja melemah, dan perekonomian AS akan merasakan "beberapa penderitaan" yang menjadi indikasi The Fed melihat resesi akan terjadi.

Sementara dari dalam negeri, sentimen masih diwarnai oleh isu kenaikan BBM subsidi. Kenaikan harga BBM Pertalite dan Solar Subsidi ini akan diumumkan pada 31 Agustus ini, dan harga baru kedua BBM tersebut akan berlaku pada 1 September 2022 ini.

"Pada hari Senin (29/8/2022) akan ada rapat lanjutan mengenai tindak lanjut rapat-rapat sebelumnya," ungkap sumber tersebut kepada CNBC Indonesia, Sabtu (27/8/2022).

Sementara itu, dari sumber tersebut juga, kemungkinan kenaikan harga BBM Pertalite di SPBU Pertamina masih akan berada di bawah Rp 10.000 per liter dengan range kenaikan Rp 1.000 sampai Rp 2.500 dari harga yang saat ini Rp 7.650 per literKenaikan harga BBM subsidi bisa mengerek inflasi yang pada akhirnya berdampak buruk bagi perekonomian Tanah Air.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pasca libur Lebaran, IHSG Rontok 4,42% ke Bawah 7.000


(aum)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading