The Fed Belum Jinak, Bitcoin Cs Loyo Lagi

Market - chd, CNBC Indonesia
18 August 2022 09:28
Gambar Konten, Cryptocurrency Ambrol Foto: Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas kripto utama kembali terkoreksi pada perdagangan Kamis (18/8/2022), di mana investor cenderung merespons negatif dari risalah rapat bank sentral Amerika Serikat (AS).

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:00 WIB, Bitcoin merosot 2,05% ke harga US$ 23.468,16/koin atau setara dengan Rp 346.976.746/koin (asumsi kurs Rp 14.785/US$). Sedangkan Ethereum drop 1,8% ke posisi US$ 1.854,32/koin atau Rp 27.416.121/koin.

Sedangkan untuk koin digital (token) alternatif (alternate coin/altcoin) Solana ambruk 6,28% ke US$ 40,86/koin (Rp 604.115/koin), Dogecoin ambrol 4,32% ke US$ 0,08128/koin (Rp 1.202/koin), dan BNB tergelincir 3,41% ke US$ 306,15/koin (Rp 4.526.428/koin).


Berikut pergerakan 10 kripto utama pada hari ini.

CryptocurrencyDalam Dolar ASDalam RupiahPerubahan Harian (%)Perubahan 7 Hari (%)Kapitalisasi Pasar (US$ Miliar)
Bitcoin (BTC)23.468,16346.976.746-2,05%-3,80%448,44
Ethereum (ETH)1.854,3227.416.121-1,80%-2,58%225,59
Tether (USDT)1,0014.785-0,00%-0,03%67,57
USD Coin (USDC)1,0014.7850,01%0,01%53,18
BNB306,154.526.428-3,41%-8,26%49,30
XRP0,37925.606-1,80%-1,30%18,69
Binance USD (BUSD)1,0014.7850,01%0,03%18,28
Cardano (ADA)0,54067.993-3,11%-0,49%18,20
Solana (SOL)40,86604.115-6,28%-5,25%14,23
Dogecoin (DOGE)0,081281.202-4,32%12,70%10,77

Sumber: CoinMarketCap

Bitcoin kembali ke kisaran harga US$ 23.000, setelah sempat menyentuh kisaran US$ 25.000 pada Senin pagi waktu Indonesia, di mana kisaran ini merupakan level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Setelah menyentuh level tersebut, Bitcoin mulai terkoreksi tetapi cenderung bertahan di kisaran US$ 24.000. Namun pada akhirnya, Bitcoin tidak mampu bertahan di kisaran tersebut.

"Rebound kripto baru-baru ini tertahan karena pedagang ritel terus mempertimbangkan risikonya," ungkap Edward Moya, analis pasar senior untuk valuta asing Oanda, dilansir CoinDesk.

Investor kembali melepas kripto setelah keluarnya risalah pertemuan the Federal Open Market Committee (FOMC).

Pasar bereaksi negatif karena risalah FOMC memberi sinyal bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tidak akan menurunkan kebijakan agresifnya.

Risalah tersebut juga menunjukkan jika pejabat The Fed belum melihat sinyal kuat dari pelemahan inflasi meskipun inflasi sudah melandai ke 8,5% (year-on-year/yoy) pada Juli, dari sebelumnya pada Juni lalu sebesar 9,1%.

"Partisipan (FOMC) sepakat hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan jika tekanan inflasi mereda. Inflasi harus direspon dengan pengetatan moneter. Partisipan berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke target sasaran di kisaran 2%," tulis risalah FOMC.

Dalam risalah yang keluar pada Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed tidak memberi petunjuk khusus berapa mereka akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan September mendatang. The Fed hanya mengatakan jika mereka akan tetap memonitor dengan dekat data-data ekonomi sebelum membuat kebijakan.

Pelaku pasar pun kemudian berekspektasi jika The Fed akan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menekan inflasi, Artinya, kenaikan suku bunga agresif masih sangat mungkin terjadi.

Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bp) pada September, meskipun kenaikan sebesar 75 bp juga masih terbuka.

Sebagai catatan, The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 225 bp menjadi 2,25% hingga 2,5% sepanjang tahun ini.

"Kebijakan The Fed masih akan hawkish. Ada kemungkinan mereka akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bp pada September. Namun, kenaikan sebesar 75 bp juga sangat terbuka," tutur ekonom Spartan Capital Securities Peter Cardillo, kepada Reuters.

Semula, pasar berkekspektasi The Fed akan menurunkan sikap hawkish-nya, terutama setelah data inflasi AS menunjukan perbaikan. Selain inflasi, kepercayaan konsumen AS juga sudah merangkak naik.

Namun, data penjualan yang dirilis kemarin menunjukkan penjualan ritel bergerak flat pada Juli.

Berdasarkan data yang dirilis Bureau of Labor Statistics, penjualan ritel Negeri Paman Sam tercatat mendatar akibat penurunan harga bensin. Data tersebut di bawah ekspektasi survei Dow Jones yang berekspektasi nai 0,1%.

Mendatarnya data penjualan ritel AS disebabkan turunnya penjualan bahan bakar di SPBU, penjualan kendaraan bermotor dan dealer suku cadang, dan penjualan baju di department store.

Namun, terjadi peningkatan 2,7% dalam penjualan online dan kenaikan 1,5% di toko lain-lain.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dibayangi Sikap Hawkish The Fed, Aset Kripto Lesu


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading