Produsen Batu Bara Termal Terbesar RI, Siapa Pemilik BUMI?

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
11 August 2022 14:35
Bakrie Tower (REUTERS/Beawiharta) Foto: Bakrie Tower (REUTERS/Beawiharta)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pertambangan batu bara, Bumi Resources (BUMI), merupakan produsen terbesar batu bara termal Indonesia. Produksi besar ini diperoleh dari operasi dua tambang raksasa di pulau Kalimantan yakni Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin Indonesia.

Pada 2021, total produksi batu bara KPC dari tambang Sangatta dan Bengalon mencapai 57,1 juta ton, turun 5% semula 60,1 juta ton di tahun 2020. Sedangkan produksi batu bara dari Arutmin tahun lalun mencapai 22,3 juta ton, naik tipis dari 20,8 juta ton di tahun sebelumnya.

Produksi dari kedua perusahaan tambang BUMI tersebut nyaris menyamai torehan gabungan produksi dari dua emiten tambang batu bara raksasa RI. Produksi batu bara Adaro Energi Indonesia (ADRO) tahun lalu tercatat sebesar 52,7 juta ton, sedangkan Bayan Resources (BYAN) mampu menambang 40 juta ton baru bara.


Adapun total penjualan batu bara BUMI tercatat sebesar 79 juta ton, turun tipis dari tahun sebelumnya yaitu 81,5 juta ton. Adapun pasar utama batu bara BUMI masih didominasi oleh konsumen domestik yang berkontribusi sebesar 38% dari total penjualan. Sementara pasar ekspor masih didominasi oleh China (29%) dan India (10%), lalu diikuti oleh Jepang dan Filipina masing-masing 8% dan 5%.

Selain produsen terbesar, BUMI juga merupakan perusahaan yang memiliki total cadangan dan sumber daya batu bara terbesar di Indonesia. Hingga akhir tahun lalu, cadangan batu bara BUMI mencapai 2,5 miliar MT dengan sumber daya tercatat sebesar 9,8 miliar MT. Segmen usaha tersebut dikelola oleh tiga perusahaan yakni KPC, Arutmin dan PT Pendopo Energi Batubara yang berlokasi di Sumatera Selatan.

Lalu siapakah pemilik dari Bumi Resources?

BUMI sendiri masih tergabung dan dikendalikan oleh Grup Bakrie, meskipun saat ini kepemilikannya telah berkurang signifikan. Long Haul Holdings merupakan perusahaan offshore yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan bertindak sebagai pengendali BUMI. Meski demikian kepemilikan saham Long Haul di BUMI saat ini tidak mencapai 5%.

Data RTI, hingga akhir Juni 2022 kepemilikan Long Haul di BUMI tersisa 2,24%. Sementara data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat tiga entitas yang memiliki kepemilikan di atas 5% di BUMI adalah HSBC-FUND SVS A/C (11%), NBS Client (6,98%) dan Watiga Trust Ltd (5,72%).

Sementara itu, data Refinitiv mencatat bahwa kepemilikan tiga entitas tersebut sama dengan yang disebut di atas, sedangkan Long Haul Holdings semakin berkurang dan tersisa 0,94%.

Pemegang saham BUMI lainnya termasuk Bambang SIhono (4,30%), Damar Reka Energi (1,70%), Value Partner (1,30%) dan Intercipta Sempana (1,22%). Sedangkan porsi terbesar masih dipegang oleh investor retail.

HSBC-FUND sendiri dimiliki oleh China Investment Corporation, entitas investasi yang mengelola dana abadi (SWF) China. NBS Client dan Watiga Trust merupakan pengelola dana pihak ketiga, namun tidak diketahui siapa pemilik uang sesungguhnya yang bersembunyi di balik rekening escrow tersebut.

Bambang Sihono merupakan investor ritel yang informasi tersedia masih terbatas, begitu pula Damar Reka Energi yang tidak banyak diketahui informasinya, selain perusahaan swasta yang berkantor di Menara Standard Chartered Jakarta.

Value Partner merupakan hedge fund ternama asal Hong Kong dan Intercipta Sempana adalah perusahaan swasta yang bergerak di sektor perdagangan. Intercipta diketahui merupakan salah satu pemegang saham utama Fajar Surya Wisesa, emiten kertas yang didirikan oleh taipan Winarko Sulistyo dan Airlangga Hartarto - Menko Perekonomian RI.

Kepemilikan saham BUMI oleh keluarga Bakrie telah berkurang tajam semenjak masa kejayaannya di pasar modal pada tahun 2000-an. Pasca sahamnya tersungkur dan ditimpa berbagai masalah lain, Bakrie berselisih dengan pemegang saham lain di Bumi plc, perusahaan pengendali BUMI yang berkantor di London.

Selain itu Grup Bakrie juga sering kali dalam upaya restrukturisasi, membayarkan utang ke para kreditur dengan menukarnya dalam bentuk saham perusahaan. Hal ini tentu pada akhirnya memangkas kepemilikan saham Grup Bakrie di BUMI.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sukses Implementasi GCG, BUMI Raih Top 50 Mid Cap Company


(fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading