Kabar Gembira dari Amerika Dongkrak Harga Minyak

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
11 August 2022 06:59
Kendaraaan mengiisi BBM di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu (3/8/2022). (CNBC Indonesia/Adrean Kristianto) Foto: Kendaraaan mengiisi BBM di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu (3/8/2022). (CNBC Indonesia/Adrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia menghijau pada perdagangan pagi ini. Kabar dari Amerika Serikat (AS) sepertinya ampuh untuk mendongkrak harga si emas hitam.

Pada Kamis (11/8/2022) pukul 06:32 WIB, harga minyak jenis brent berada di US$ 97,07/barel. Naik 0,79% dari posisi hari sebelumnya.

Sedangkan yang jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) harganya US$ 91,39/barel. Bertambah 0,99%.


crudeSumber: Refinitiv

Kabar gembira datang dari AS. US Bureau of Labour Statistics melaporkan inflasi Negeri Adidaya pada Juli 2022 berada di 8,5% year-on-year (yoy). Masih tinggi, tetapi jauh melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang 9,1%, tertinggi dalam lebih dari 40 tahun terakhir.

Inflasi energi pun melambat, meski masih di level tinggi. Harga bensin masih naik 44% yoy, melambat dibandingkan Juni 2022 yang melonjak 59,9% yoy. Sementara harga gas alam naik 30,5% yoy, versus 38,4% yoy pada Juni 2022.

Perlambatan laju inflasi membuat pasar makin yakin bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan sedikit mengerem laju pengetatan moneter. Sebab, selama ini kenaikan suku bunga acuan yang agresif dilakukan atas nama 'perang' melawan inflasi.

Nah, sekarang inflasi sudah mulai melandai (meski mash tinggi). Jadi, bolehlah Ketua Jerome 'Jay' Powell dan kolega agak santai sedikit.

Kini pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin (bps) ke 2,75-3% dalam rapat bulan depan. Mengutip CME FedWatch, kemungkinannya 57,5%. So, bukan lagi naik 75 bps apalagi 100 bps.

fedSumber: CME FedWatch

"Next meeting akan naik 50 bps. Namun setelah itu mereka akan berhitung dengan teliti karena pertumbuhan ekonomi masih lemah.

"Saya pikir kenaikan bunga akan berakhir tahun ini, tahun depan mereka akan turunkan bunga. Aneh kalau naikkan bunga terus ketika ekonomi resesi," papar Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam acara CNBC Indonesia Economic Update 2022.

Tanpa kenaikan suku bunga yang jor-joran, ekonomi Negeri Stars and Stripes masih punya ruang untuk ekspansif. Diharapkan AS bisa segera keluar dari 'jurang' resesi.

AS adalah konsumen minyak terbesar di dunia. Saat ekonomi AS bergeliat, maka permintaan energi akan naik. Jadi wajar saja harga minyak ikut terungkit.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Minyak Dunia Ambruk! Ada yang Turun 13% Seminggu...


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading