Juragan Beras Sukarto Bujung Borong Saham Krim Popok Bayi

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
10 August 2022 15:05
Ilustrasi Bursa (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Ilustrasi Bursa (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pebisnis sekaligus investor value investing yakni Sukarto Bujung diketahui memiliki saham emiten perdagangan umum produk bayi komersial yakni PT Multi Indocitra Tbk (MICE). Ia terpantau beberapa kali mengakumulasi saham emiten yang juga menjual krim popok bayi Pigeon tersebut.

Transaksi terakhir berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) ia lakukan 8 Agustus kemarin. Di tanggal ini, kepemilikannya sebesar 64,19 juta atau setara 10,79% saham MICE. Sehari sebelumnya, jumlah kepemilikan Sukarto Bujung atas MICE sebanyak 64,13 juta atau setara 10,69%.

Awal Agustus, Sukarto juga sempat memborong saham MICE. Per tanggal 3 Agustus kemarin, kepemilikan Sukarto Bujung atas MICE sebesar 63,81 juta atau setara10,64%. Porsi ini naik dibanding sehari sebelumnya yang masih sekitar 63%.


Saham MICE merupakan emiten yang bergerak dalam bidang industri dan perdagangan umum atas barang-barang konsumsi perlengkapan bayi bermerek Pigeon, produk perawatan kesehatan kosmetika dengan merek AIBU dan Astalift, lampu hemat energi dengan jenis CFL (Compact Fluorescent Lamp) dan lampu LED (Lighting Emitting Diode) bermerek HORI.

PT Buana Graha Utama menjadi pemegang saham pengendali MICE, di mana kepemilikannya mencapai 272.238.218 lembar saham atau 45,37% dari total saham MICE.

Pada perdagangan sesi I Rabu (10/8/2022) hari ini, saham MICE ditutup stagnan di posisi harga Rp 540/saham. Dalam sepekan terakhir, saham MICE melesat 12,03% dan dalam sebulan terakhir saham MICE melejit 35%.

Nilai transaksi saham MICE pada perdagangan sesi I hari ini sudah mencapai Rp 285,19 juta dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 534.800 lembar saham.

Adapun Sukarto sendiri merupakan sosok pebisnis di balik beras bermerek Buyung atau beras Hoki. Saat ini, Sukarto merupakan Direktur Utama PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), emiten yang memproduksi beras bermerek HOK-1 dan Topi Koki.

Sukarto sejatinya sudah lama berkecimpung di dunia saham bahkan jauh sebelum perusahaannya sendiri melakukan IPO (Initial Public Offering/IPO). Bahkan, beliau juga disebut sebagai investor yang menerapkan value investing.

Value investing merupakan metode untuk membeli saham di bawah harga wajarnya atau sering disebut dengan saham yang undervalue, untuk kemudian dijual di harga wajarnya. Value investing ini cocok untuk untuk investor yang punya tingkat kesabaran tinggi karena keuntungan maksimal justru diperoleh saat saham dijual beberapa tahun kemudian.

Portofolio saham orang kelahiran Palembang, 27 Januari 1968 ini terdiri dari saham-saham kecil yang tidak dilirik banyak orang.

Sukarto pernah membeberkan alasannya berkutat pada saham 'receh' selama puluhan tahun. Ia lebih memilih untuk investasi jangka panjang. Sukarto mengakui bahwa mengamati saham setiap hari sangat menyita waktu sedangkan ia punya perusahaan besar beserta karyawan-karyawannya yang harus diurus.

Karena tidak mau ambil pusing dengan nilai saham yang berfluktuasi, Sukarto hanya mengecek grafik saham sesekali. Kisah terkenal mengenai perjalanan Sukarto berinvestasi adalah saat beliau membeli saham PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI).

Beliau membeli saham MREI di tahun 2007 dengan harga Rp 200 saja. Pada tahun 2013, saham MREI naik jauh ke harga Rp 1.700/saham dan memberikan Sukarto keuntungan hingga Rp 37 miliar. Kesabaran dan kepandaian Sukarto dalam berinvestasi memang patut diapresiasi.

Alih-alih mengikuti arus untuk membeli saham blue chip, beliau bersikeras berinvestasi di emiten-emiten kecil.

Meskipun begitu, Sukarto juga pernah dirundung masalah saat krisis moneter 1998 mengguncang Indonesia dan dunia. Beliau mengaku telah kehilangan lebih dari Rp 1,5 miliar di masa kelam tersebut.


[Gambas:Video CNBC]

(chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading