Kurs Dolar Singapura Kini Naik 5 Hari Beruntun

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 July 2022 13:25
Ilustrasi dolar Singapura (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi dolar Singapura (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rilis data ekspor Singapura yang terus menunjukkan pertumbuhan membuat dolarnya belum berhenti menanjak. Ekspor merupakan motor penggerak perekonomian Singapura.

Rasio ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura lebih dari 100%. Singapura menjadi negara dengan rasio ekspor terhadap PDB terbesar di dunia. Artinya, ketika ekspornya mulai tinggi, maka pertumbuhan ekonomi mengekor. Dolar Singapura pun terus menguat melawan rupiah.

Pada perdagangan Selasa (19/7/2022) pukul 11:45 WIB, dolar Singapura diperdagangkan di kisaran Rp 10.733/SG$ di pasar spot, melansir data Refinitiv. Meski demikian, dalam 1 bulan terakhir dolar Singapura masih bergerak di rentang Rp 10.650 - Rp 10.750/SG$. Batas ada konsolidasi tersebut merupakan level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Data dari Enterprice Singapore (ESG) yang dirilis kemarin menunjukkan NODX Juni tumbuh 9% year-on-year (yoy), meski lebih rendah dari bulan sebelumnya yang melesat 12% (yoy). Baik ekspor elektronik dan non-elektronik mengalami kenaikan, begitu juga di 10 besar pasar utama, termasuk diantaranya Amerika Serikat, Malaysia dan Indonesia.

Secara bulanan, NODX tercatat tumbuh 3,7% pada Juni, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 2,8%.

Sementara itu data dari Kementerian Industri dan Perdagangan (MTI) yang dirilis pekan lalu menunjukkan produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2022 tumbuh 4,8% year-on-year (yoy), lebih tinggi dari kuartal sebelumnya 4% (yoy). Namun, angka pertumbuhan tersebut lebih rendah dari prediksi Reuters sebesar 5,2% (yoy).

Tingginya inflasi yang membuat Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengetatkan kebijakannya sebanyak 3 kali sejak tahun lalu membuat ekspansi dunia usaha menjadi melambat. Hal ini yang membuat PDB di bawah ekspektasi.

Meski demikian, menurut pemerintah Singapura, Negeri Merlion tidak akan mengalami resesi.

"Untuk tahun depan, pertumbuhan ekonomi akan moderat, tetapi pada tahap tersebut tidak akan terjadi resesi atau pun stagflasi," kata Alvin Tan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, sebagaimana dilansir Channel News Asia Senin (4/7/2022).

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Lagi Perkasa! Dolar Singapura Tak Berdaya


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading