Masih Volatil, Kemarin Koreksi, Hari Ini Bitcoin cs Naik Lagi

Market - chd, CNBC Indonesia
07 July 2022 10:05
Ilustrasi/ Cryptocurrency / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas kripto utama berbalik menguat pada perdagangan Kamis (7/7/2022), meskipun sentimen pasar global pada hari ini masih cenderung mengarah negatif.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:10 WIB, Bitcoin melesat 3,12% ke harga US$ 20.495,95/koin atau setara dengan Rp 307.029.331/koin (asumsi kurs Rp 14.980/US$), sedangkan Ethereum melejit 5,91% ke posisi US$ 1.183,01/koin atau Rp 17.721.490/koin.

Sedangkan beberapa koin digital (token) alternatif (alternate coin/altcoin) seperti Solana terbang 6,65% ke US$ 37,23/koin (Rp 557.705/koin), Cardano melonjak 3,88% ke US$ 0,4678/koin (Rp 7.008/koin), dan Dogecoin melompat 3,45% ke US$ 0,06886/koin (Rp 1.032/koin).


Berikut pergerakan 10 kripto utama pada hari ini.

Kripto

Bitcoin kembali menguat ke zona psikologisnya di US$ 20.000, setelah sehari sebelumnya sempat terkoreksi dan diperdagangkan di kisaran harga US$ 19.000. Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin diperdagangan di kisaran sempit yakni di US$ 19.000 - US$ 20.000, menandakan bahwa investor masih belum berselera memburu aset kripto.

Banyak analis telah mengadopsi pandangan yang jernih tentang iklim kripto saat ini yang telah mengalami pukulan ganda dari kegagalan protokol dan ketidakpastian makroekonomi.

Mereka tidak melihat harga naik dalam waktu dekat, kecuali perubahan tak terduga menjadi lebih baik dalam pertempuran yang sedang berlangsung dengan inflasi.

"Anda melihat pembantaian di luar sana, seperti krisis yang terjadi di Celsius, Voyager, BlockFi, dan lain-lainnya. Anda melihat sejumlah berita utama yang berbeda-beda selama beberapa bulan terakhir," kata David Nage, manajer portofolio di perusahaan manajemen aset Arca, dikutip dari CoinDesk.

Namun, Nage juga memandang positif kemampuan Bitcoin dalam jangka pendek tetap berada di kisaran US$18.000 - US$ 20.000.

"Bitcoin tetap stabil di sekitar pola perdagangan ini. Kami berbicara tentang aset digital sebagai efek jangka panjang dalam hal hal-hal yang akan terjadi dan berubah dengan masyarakat serta sistem ekonomi, di mana Bitcoin jelas merupakan bagian dari itu," tambah Nage.

Investor semakin khawatir dengan potensi resesi yang akan terjadi di Amerika Serikat (AS), setelah mereka melihat bahwa imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali mengalami inversi.

Inversi tersebut terjadi setelah yield Treasury tenor 2 tahun (2,996%) lebih tinggi ketimbang tenor 10 tahun (2,934%). Dalam kondisi normal, yield tenor lebih panjang akan lebih tinggi, ketika inversi terjadi posisinya terbalik.

Sebelumnya inversi juga terjadi pada April lalu, dan menjadi sinyal kuat akan terjadinya resesi di Negeri Paman Sam.

Berdasarkan riset dari The Fed San Francisco yang dirilis 2018 lalu menunjukkan sejak tahun 1955 ketika inversi yield terjadi maka akan diikuti dengan resesi dalam tempo 6 sampai 24 bulan setelahnya. Sepanjang periode tersebut, inversi yield Treasury hanya sekali saja tidak memicu resesi (false signal).

Setelah rilis riset tersebut, inversi yield terjadi lagi di AS pada 2019 lalu yang diikuti dengan terjadinya resesi, meski juga dipengaruhi oleh pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19).

Survei terhadap chief financial officer (CFO) yang dilakukan CNBC International awal Juni lalu menunjukkan sebanyak 68% melihat perekonomian AS diprediksi akan mengalami resesi di semester I-2023.

Sementara itu, bank investasi JP Morgan pada pertengahan Juni lalu mengatakan probabilitas AS mengalami resesi saat ini mencapai 85%, berdasarkan pergerakan harga di pasar saham.

Di lain sisi, tingginya inflasi membuat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sangat agresif dalam menaikkan suku bunga. Seperti diketahui pada bulan lalu, The Fed menaikkan suku bunga 75 basis poin (bp) menjadi 1,5% - 1,75%.

Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak 1994, dan di bulan ini akan kembali menaikkan sekitar 50 - 75 bp. Hal itu ditegaskan dalam rilis notula rapat kebijakan moneter The Fed dini hari tadi.

Bahkan, dalam notula tersebut tersurat The Fed bisa mengambil kebijakan lebih agresif lagi jika tekanan inflasi belum mereda.

"Para anggota dewan setuju bahwa prospek ekonomi memerlukan kebijakan yang ketat, dan mereka mengakui kebijakan yang lebih ketat lagi akan tepat diambil jika tekanan inflasi yang tinggi terus berlanjut," tulis notula tersebut sebagaimana dilansir CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jangan Kaget! Kripto Makin Amsyong, Bitcoin-Ethereum Terparah


(chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading