Waspada! S&P Beri Peringatan Soal Tantangan Kredit

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
06 July 2022 16:15
Daftar Negara yang Bakal Ambruk Gegara Utang, Ada Tetangga RI Foto: Infografis/ Daftar Negara yang Bakal Ambruk Gegara Utang, Ada Tetangga RI/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan pemeringkatan S&P Global dalam laporannya baru-baru ini membeberkan sejumlah tantangan yang dihadapi pasar kredit di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Dalam laporannya, S&P Global menggarisbawahi sejumlah kondisi makroekonomi global menjadi alasan utama termasuk pemangkasan proyeksi pertumbuhan GDP akibat inflasi tinggi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa hingga target pertumbuhan ekonomi China 5,5% diperkirakan tidak akan tercapai tahun ini karena kebijakan lockdown di sejumlah wilayah, termasuk Shanghai melumpuhkan ekonomi Negeri Panda.

Meski ekonomi China melambat signifikan, sebagian negara lain di kawasan Asia Pasifik disebut S&P 500 mampu menjaga momentum, khususnya di negara maju mengingat dampak kontraksi ekonomi akibat pandemi lebih berat dirasakan oleh negara pasar berkembang (emerging market).


Lembaga pemeringkatan tersebut juga mencatat, kondisi inflasi di kawasan Asia juga menjadi masalah utama, meskipun tidak separah apa yang dialami negara Eropa dan AS. Sebagian besar negara Asia-Pasifik telah mencatatkan angka inflasi yang melebihi target pemerintah, termasuk yang terjadi di Indonesia bulan Juni lalu. Sementara itu, China merupakan salah satu negara yang inflasinya masih dalam rentang target pemerintah.

Selanjutnya tingginya suku bunga AS turut menyebabkan ramainya dana asing keluar dari kawasan Asia Pasifik dan menambah tekanan pada nilai tukar mata uang yang nilainya semakin terdepresiasi.

Pelemahan mata uang dan inflasi tinggi, memaksa sejumlah bank sentral untuk melakukan normalisasi kebijakan moneter dari iklim suku bunga rendah masa pandemi.

Dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo telah memberikan sinyal kebijakan baru dalam menyikapi perkembangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian dan mempengaruhi kondisi dalam negeri. Akan tetapi masih belum diketahui pasti kapan bank sentral RI akan menaikkan suku bunga acuannya, meskipun sejumlah analis memperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat.

Risiko utama pasar kredit

Sejumlah tantangan utama pasar kredit di Asia Pasifik risikonya semakin meningkat atau mengalami tren yang semakin buruk saat ini.

Pertama adalah terkait biaya operasional yang semakin tinggi, tidak hanya karena input harga yang diperparah oleh pelemahan mata uang, melainkan juga akibat biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Alhasil penerbit utang di kawasan Asia Pasifik akan kesusahan memperoleh pembiayaan. Sejak Awal April tahun ini mata uang Asia tercatat melemah melawan dolar AS, dengan imbal hasil (yield) surat utang masing-masing negara Asia juga mengalami peningkatan.

Kenaikan harga energi dan komoditas bagi sejumlah perusahaan juga akan mengganggu kinerja laba akibat margin yang tertekan. Sebagai contoh harga gandum tinggi berbahaya bagi kinerja produsen makanan olahan roti, apabila perusahaan memutuskan untuk tidak menaikkan harga jual produk.

Kaburnya dana asing juga ikut memperparah akses pendanaan dan melemahkan kondisi pasar kredit. Tantangan ini akan sangat terasa bagi perusahaan yang memiliki pinjaman dalam mata uang asing besar serta perusahaan yang obligasinya akan jatuh tempo.

S&P Global menyebut bahwa kawasan Asia selain Jepang, Australia dan Selandia Baru akan mengalami tekanan kredit yang semakin tinggi di akhir tahun 2022 atau awal 2023.

Sejumlah korporasi yang ingin meminjam juga dalam kondisi rentan karena akses pembiayaan yang ketat dan pendapatan yang masih belum pulih total. Pembiayaan korporasi juga terancam oleh meningkatnya biaya dan pengetatan pinjaman karena investor menginginkan pengembalian yang lebih tinggi.

Terakhir S&P 500 juga mencatat bahwa utang rumah tangga masih menjadi kekhawatiran akibat melonjaknya harga properti khususnya seperti yang terjadi di Thailand dan Korea Selatan, serta Malaysia dalam tingkat yang lebih rendah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kuartal I, Kredit Bank Mandiri Tumbuh 8,93% Jadi Rp 1.072,9 T


(fsd/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading