Anjlok 3% Pekan Lalu, Harga Batu Bara Bisa Cerah Minggu Ini

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
04 July 2022 07:35
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melemah 3,1% pekan lalu meskipun sempat menguat pada tiga hari perdagangan. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (1/7/2022), harga batu kontrak Agustus di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 375 per ton. Menguat 1,64% dibandingkan hari sebelumnya.

Secara keseluruhan, harga batu bara masih ambles 3,1% secara point to point dalam sepekan. Catatan ini berbanding terbalik dibandingkan pekan lalu di mana harga batu bara terbang 7,9% atau dua pekan sebelumnya di mana harga batu bara menguat 3,9%.

Dalam sebulan, harga batu bara juga anjlok 3,9%. Akan tetapi masih melesat 185,3% dalam setahun.



Harga batu bara masih berpeluang naik pekan ini karena sejumlah faktor. Salah satunya adalah karena banyak negara yang memasok batu bara sebagai persiapan musim dingin.

Persoalan pengiriman untuk wilayah Eropa juga bisa memicu harga. Pergerakan harga batu bara ke depan juga masih sangat dipengaruhi oleh harga gas.

Analis dari Montel Tom Hovik memperkirakan harga gas bisa menguji titik tertingginya sepanjang masa di 166 euro/MWh bulan ini. Kenaikan gas ini tentu bisa mengerek harga batu bara.

Analis dari Volue Espen Andreassen mengatakan harga batu bara ke depan juga akan dipengaruhi oleh keputusan parlemen dan dewan Uni Eropa mengenai The European Union Emissions Trading System (EU ETS) atau Pasar Karbon. Sebagai catatan, parlemen Jerman juga akan melakukan voting pada pekan ini untuk menentukan apakah pemerintah Jerman diizinkan untuk mengoperasikan pembangkit batu bara mereka.

"Pasar cenderung melihat dampak dioperasikannya kembali pembangkit listrik batu bara. Ada ketidakpastian mengenai negosiasi reformasi EU ETS antara parlemen Eropa dan dewan. Ini akan berpengaruh ke harga," tutur Andreassen, seperti dikutip Montel.

Sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman dan Austria, telah mengumumkan akan kembali mengoperasikan pembangkit listrik batu bara mereka setelah Rusia memangkas pasokan gasnya. Namun, di tengah upaya mereka untuk menimbun pasokan terdapat kendala pengiriman. Musim panas membuat Sungai Rhine di Jerman surut sehingga dikhawatirkan mengganggu pengiriman batu bara.

"Kemungkinan cuaca panas akan berlangsung lebih lama dari pertengahan Juli hingga minggu pertama Agustus. Jika Juli sungai akan sangat kering dan sepertinya memang demikian maka pengiriman barang melalui sungai tersebut akan dilarang," tutur Robin Girmes, meteorologis dari Energy Weather.

Pada musim panas 2018, pengiriman barang melalui Sungai Rhine dilarang karena permukaan sungai surut di bawah 80 cm. Ketersediaan tongkang di Sungai Rhine yang mengangkut batu bara juga berkurang. Tongkang lebih banyak digunakan untuk mengangkut biji-bijian dari Ukraina.

"Berkurangnya tongkang pengangkut batu bara bisa menjadi masalah. Rantai pasok tidak akan memiliki cukup kemampuan untuk menangani volume pengiriman yang sedemikian besar," tutur Hugo Du Mez, penasihat penjualan batu bara di pelabuhan Rotterdam.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cur Hancur! Batu Bara Makin Hancur, Seminggu Harga Ambles 14%


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading