Sempat Ambruk Ke US$ 18.000, Bitcoin Balik Lagi Ke US$ 20.000

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
01 July 2022 11:02
Pejalan kaki melewati iklan yang menampilkan token cryptocurrency Bitcoin di Hong Kong, Selasa (15/2/2022). (Photo by Anthony Kwan/Getty Images) Foto: Pejalan kaki melewati iklan yang menampilkan token cryptocurrency Bitcoin di Hong Kong, Selasa (15/2/2022). (Photo by Anthony Kwan/Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bitcoin sempat diperdagangkan di kisaran harga US$ 18.000 pada perdagangan Jumat (1/7/2022) pagi sekitar pukul 04:00 WIB, karena diperburuk oleh jatuhnya beberapa perusahaan kripto dan kondisi makroekonomi global yang masih memburuk.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada hari ini pukul 03:54 WIB, Bitcoin sempat melemah ke harga US$ 18.743,83/BTC. Tetapi sekitar pukul 07:30 WIB, Bitcoin berhasil menyentuh kembali zona psikologisnya di US$ 20.000, atau tepatnya menguat ke harga US$ 20.632,67/BTC.

Dalam sepekan terakhir, Bitcoin terkoreksi 4,16% dan dalam sebulan terakhir Bitcoin ambles 36,18%. Sementara sepanjang tahun ini, Bitcoin sudah ambruk hingga 57,3%.


Adapun kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini mencapai US$ 388,55 miliar, setelah pada sekitar pukul 04:00 WIB, kapitalisasi pasar Bitcoin sempat terjatuh menjadi US$ 357,66 miliar.

Bitcoin (BTC)Sumber: CoinMarketCap
Bitcoin (BTC)

Bitcoin telah diperdagangkan dalam kisaran yang ketat dalam dua pekan terakhir dan tidak mampu membuat pergerakan besar jauh di atas US$ 22.000.

Beberapa pemain besar di pasar cryptocurrency mengalami kesulitan dana dan penurunan lebih lanjut dapat memaksa investor kripto untuk menjual kepemilikannya untuk memenuhi margin call dan menutupi kerugian.

Pasar aset digital telah berjuang sejak pemberi pinjaman yang berbasis di Amerika Serikat (AS), yakni Celsius Network pada Juni lalu yang melakukan penghentian penarikan dana oleh nasabahnya.

Setelah kasus Celsius Network, muncul kembali masalah yang menimpa perusahaan dana lindung nilai (hedge fund) kripto yakni Three Arrows Capital, di mana perusahaan tersebut resmi dinyatakan gagal bayar (default) oleh kreditur atau pemberi pinjaman yakni Voyager Digital.

Banyak masalah yang menimpa perusahaan kripto baru-baru ini dapat ditelusuri sebagai dampak dari jatuhnya stablecoin buatan Terra Lab Forms yakni TerraUSD (UST) pada awal Mei lalu, yang membuat stablecoin satu-satunya di ekosistem Terra tersebut kehilangan hampir semua nilainya, bersama dengan koin digital (token) saudaranya yakni Terra Luna (LUNA).

Selain karena kejatuhan dua token Terra yang berimbas ke perusahaan kripto, kondisi makroekonomi yang terus memburuk membuat pasar kripto kehilangan pangsanya sepanjang semester pertama tahun ini.

Inflasi yang masih meninggi, ditambah dengan sikap agresif bank sentral Amerika Serikat (AS) dan beberapa bank sentral Negara Barat dalam menaikan suku bunga acuannya, apalagi perang antara Rusia-Ukraina yang belum usai dan menyebabkan rantai pasokan kembali terganggu menjadi sentimen negatif di aset berisiko, termasuk di kripto.

Menurut Vijay Ayyar, vice president perusahaan pertukaran kripto Luno, mengatakan bahwa Bitcoin kemungkinan akan diperdagangkan di kisaran US$ 17.000 dan US$ 22.000 dalam jangka pendek.

"Untuk sementara waktu, mengingat sentimen pasar saat ini dan kenaikan suku bunga yang masih akan terjadi oleh Federal Reserve (The Fed) pada Juli mendatang, dapat terus membebani semua aset berisiko, termasuk kripto," kata Vijay Ayyar, dilansir dari CNBC International.

"Sebagian besar pembalikan harga, kemudian dengan cepat dijual oleh investor selama beberapa minggu terakhir, biasanya dikategorikan sebagai rebound di bear market, di mana hal ini bertujuan untuk menjebak pembeli yang terlambat, hanya untuk membuat mereka terpaksa menjual di posisi lebih rendah," tambah Ayyar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pegangan! Bitcoin Diprediksi Bakal Merosot Lagi


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading