4 Negara Eropa Pengimpor Batu Bara Indonesia, Siapa Terbesar?

Market - Romys Binekasri, CNBC Indonesia
30 June 2022 08:15
Tambang batu bara di  Ahmedabad, India

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, ada empat negara Eropa yang sedang menjajaki peluang untuk membeli batu bara Indonesia. Keempat negara itu adalah, Jerman, Spanyol, Italia dan juga Belanda.

Melalui data MODI, tercatat produksi batu bara Indonesia hingga pada 27 Juni 2022 sudah mencapai 292,77 juta ton atau 44,16% dari target produksi tahun 2022 ini yang mencapai 663 juta ton.

Staf Khusus Menteri ESDM, Irwandy Arif mengatakan keempat negara tersebut sedang dalam tahap penjajakan awal untuk meminta batu bara Indonesia. Sehingga pihaknya belum mengetahui berapa kuota permintaan dari negara-negara Eropa tersebut.


"Penjajakan lah masih awal. Kan Rusia baru nyetop (setop impor batu bara ke Eropa) Agustus. Itu masih baru penjajakan, ada Jerman, Spanyol, Italia dan Belanda," terang Irwandy saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM beberapa waktu lalu, dikutip Kamis (30/6/2022).

Dengan adanya permintaan batu bara dari negara-negara Eropa itu, Irwandy juga belum mengetahui apakah Indonesia akan meningkatkan produksi batu baranya, dari yang ditargetkan tahun ini mencapai 663 juta ton.

"Ya, enggak tahu (penambahan produksi) semula saja belum dicapai. Kalau misalnya hujan agak berhenti, ya, lumayan itu," ujar Irwandy.

Guna memenuhi kebutuhan batu bara Eropa, maka produsen batu bara perlu upaya ekstra. "Produksinya saja baru 41% dari target sampai dengan Mei," imbuhnya.

Di samping itu, jika Indonesia ingin menjual batu bara ke Eropa, paling tidak kualitasnya harus memenuhi kebutuhan mereka. Pasalnya, Eropa pada umumnya menggunakan batu bara kualitas di atas 5.500 kalori/kg. "Tapi ingat Eropa mintanya di atas 5.500 (kalori)," imbuh Irwandy.

Selain negara Eropa, menurut Irwandy India yang merupakan salah satu negara tujuan ekspor batu bara terbesar Indonesia juga meminta tambahan batu bara. Namun demikian, ia tidak merinci seberapa besar tambahan produksi yang diminta India.

Senada, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli sebelumnya menilai bahwa upaya peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan ekspor cukup menantang. Setidaknya ketersediaan alat berat dan alat angkut menjadi tantangan tersendiri.

"Pertama adalah bahwa saat ini juga terjadi kelangkaan suplai alat berat yang dibutuhkan untuk peningkatan produksi itu agak sulit," kata dia kepada CNBC Indonesia, Rabu (22/6/2022).

Di samping itu, ketersediaan alat berat untuk kegiatan tambang juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Paling tidak penambang harus menunggu terlebih dahulu sekitar 12 hingga 15 bulan lamanya.

"Yang satu lagi adalah alat angkut yang kita kebanyakan kita gunakan, misalnya tongkang nah ini sulit untuk didapatkan sehingga ini bisa jadi penghambat," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Permintaan Batu Bara India & Eropa Melonjak, Ekspor RI Naik?


(RCI/dhf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading