Hantu Resesi Bikin Kripto Gonjang-ganjing Hari Ini

Market - chd, CNBC Indonesia
28 June 2022 10:20
Gambar Konten, Cryptocurrency Ambrol

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas kripto utama terpantau kembali terkoreksi pada perdagangan Selasa (28/6/2022), menandakan bahwa selera risiko investor di pasar kripto cenderung belum pulih di tengah kondisi global yang belum menentu.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:00 WIB, Bitcoin merosot 2,14% ke harga US$ 20.629,35/koin atau setara dengan Rp 305.830.114/koin (asumsi kurs Rp 14.825/US$), sedangkan Ethereum drop 2,7% ke posisi US$ 1.180,53/koin atau Rp 17.501.357/koin.

Sedangkan beberapa koin digital (token) alternatif (alternate coin/altcoin) seperti Dogecoin ambruk 7,43% ke US$ 0,07002/koin (Rp 1.038/koin), XRP ambles 5,34% ke US$ 0,345/koin (Rp 5.115/koin), dan Solana terkoreksi 3,6% ke US$ 38,07/koin (Rp 564.388/koin).


Berikut pergerakan 10 kripto utama pada hari ini.

Kripto

Bitcoin terkoreksi dan kembali menyentuh zona psikologisnya di US$ 20.000 pada hari ini, menandakan bahwa selera risiko investor di pasar kripto cenderung belum pulih di tengah kondisi global yang belum menentu.

Beberapa analis pun pesimis tentang prospek reli berkelanjutan di pasar kripto dan mereka masih cenderung memprediksi bahwa tren bearish kripto masih akan berlangsung hingga akhir tahun ini.

Analis kripto EToro, Simon Peters mengatakan bahwa pasar kripto telah menderita akibat pendapatan perusahaan yang buruk, inflasi yang masih meninggi, dan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) yang telah merugikan saham dan aset berisiko lainnya tahun ini.

Harga kripto semakin berkorelasi dengan pasar saham, terutama yang memiliki komponen teknologi berat seperti indeks Nasdaq Composite.

"Meningkatnya risiko resesi, pendapatan perusahaan yang buruk, dan prospek kedepannya dari perusahaan dapat lebih mempengaruhi harga pasar saham, mengingat korelasi baru-baru ini dengan pasar saham, sehingga harga kripto juga dapat terpengaruh." kata Peters, dikutip dari CoinDesk.

Sedangkan menurut analis pasar senior Oanda, Craig Erlam mengatakan bahwa reli Bitcoin yang melemah mencerminkan sentimen suram secara keseluruhan tentang aset berisiko.

"Trader jelas mengambil pandangan yang sangat konservatif di pasar kripto dan hal itu mungkin tidak akan berubah dalam waktu dekat," kata Erlam, dilansir dari CoinDesk.

Investor juga masih cenderung khawatir bahwa potensi resesi masih akan terjadi pada tahun ini, di mana mereka masih cenderung pesimis karena masih adanya potensi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan potensi inflasi yang masih bertahan di zona tinggi.

Namuin pada Senin kemarin, sentimen negatif dari krisis likuiditas perusahaan pemberi pinjaman kripto seperti Celsius Network dan dana lindung nilai (hedge fund) kripto yang bangkrut, Three Arrows Capital tampaknya mulai mereda.

Howard Greenberg, presiden dan pendiri Akademi Perdagangan Prosper, mengatakan kepada CoinDesk bahwa Indeks Ketakutan & Keserakahan Bitcoin mulai mengalami kenaikan, meski sejatinya zona 'fear' masih cukup ekstrim.

Crypto Fear and Greed IndexSumber: alternative.me
Crypto Fear and Greed Index

Kekacauan di pasar kripto memang tercermin pada Indeks Fear and Greed, di mana hingga kini masih berada di zona extreme fear, yang sudah terjadi selama dua bulan berturut-turut. Hal ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah indeks.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kripto Terkoreksi Tipis, Tapi Bitcoin Stabil di US$ 21.000


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading