Green Economic Forum 2022

Ini Alasan Industri Batu Bara Perlu Tranformasi

Market - Eqqi Syahputra, CNBC Indonesia
27 June 2022 17:52
Demi Dekarbonisasi, PTBA Percepat Transformasi Bisnis Batu Bara  (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan berbagai negara yang tengah gencar menerapkan ekonomi hijau dengan mengurangi penggunaan energi fosil harus disikapi serius oleh perusahaan tambang batu bara.

VP Pengembangan Hilirisasi PT Bukit Asam Tbk, Setiadi Wicaksono mengatakan, industri tambang batu bara perlu melakukan transformasi ditengah meningkatnya penerapan energi hijau di berbagai negara. Hal ini harus dilakukan, karena batu bara tidak selamanya akan diandalkan untuk pembangkit, khususnya listrik.

"Karena secara jangka panjang di targetkan penggunaan energi terbarukan akan meningkat," kata Setiadi dalam acara Green Economic Forum yang diselenggarakan CNBC Indonesia, Senin, 27 Juni 2022.


Ada berbagai peluang yang bisa dilakukan berbagai perusahaan indutri batu bara untuk melakukan tranformasi bisnis energi, salah satunya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Perusahaan Industri batu bara saat ini lanjutnya memiliki tanah yang besar. Lahan-lahan ini nantinya ketika sudah tidak digali untuk batu bara bisa dimanfaatkan untuk pengembangan PLTS.

Keuntungannya, bisa sediakan tarif kompetitif karena lahan sudah ada dan tidak perlu biaya pembebasan lahan yang besar serta tinggal mencari teknologinya.

Kendati demikian saat ini yang perlu disadari, batu bara selama ini masih jadi andalan listrik dan juga lebih kompetitif.

Meskipun di masa mendatang tidak menutup kemungkinan akan muncul teknologi seperti Carbon Capture and Storage (CCS) yang lebih kompetitif dan dapat diimplementasikan di industi batu bara secara komersil.

"Jadi tidak menutup kemungkinan batu bara bisa tetap digali, namun dengan emisi yang terkendali," jelasnya.

Ia pun tak menampik, untuk transformasi menuju energi bersih masih terdapat tantangan bagi industri batu bara, mulai dari teknologi, kebutuhan investasi dan juga ekonomi proyek.

Sebagai contoh seperti CCS. Berdasarkan studi indikasi biayanya mencapai 60 USD per ton. Jika diinject ke batu bara tentunya membuat harga produksi naik, dan ke hilir biaya listrik jadi naik. Sehingga akan menjadi beban bagi masyayarakat.

"2030 estimasi css bisa setengahnya dari sekarang, yakni bisa turun 30 USD per ton. Kalau bisa kompetitif kami percaya suatu masa di industri batu bara terinstal teknologi capture carbon storage sehingga industri batu bara bisa tetap jalan namun dengan tingkat emisi yang dikendalikan," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bos PTBA Raih Penghargaan CEO Service & Operation Excellent


(dpu/dpu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading