Investor Lirik Lagi Batu Bara, Sinyal Energi Hijau Meredup?

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
23 June 2022 12:20
Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam negeri, bahkan tak mustahil bila meninggalkannya sama sekali. Hal ini tak lain demi mencapai target netral karbon pada 2060 atau lebih cepat, seperti yang dikampanyekan banyak negara di dunia. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Aktivitas Bongkar Muat Batu Bara di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investasi global diperkirakan akan mencapai US$ 2,4 triliun, melesat lebih dari 8% pada 2022. Peningkatan signifikan terjadi pada investasi untuk batu bara. Sementara investasi energi hijau juga meningkat tapi masih jauh dari harapan dalam mencapai perbaikan iklim.

Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan investasi energi bersih akan mencapai US$ 1,4 triliun lebih tahun ini dan menyumbang hampir tiga perempat dari pertumbuhan investasi energi secara keseluruhan.

IEA memandang pencapaian sekarang masih jauh dari cukup untuk mencapai perubahan iklim. "Tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan dalam investasi energi bersih dalam lima tahun setelah penandatanganan Perjanjian Paris pada 2015 hanya lebih dari 2%," katanya.


Sejak 2020, angka itu telah tumbuh menjadi 12%. IEA menggambarkannya sebagai "jauh dari apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan iklim internasional, tetapi tetap merupakan langkah penting ke arah yang benar."

Direktur eksekutif IEA, Fatih Birol, menyoroti tantangan dan peluang yang dihadapi dunia saat ini tentang krisis energi dan krisis iklim.

"Kita tidak dapat mengabaikan krisis energi global saat ini atau krisis iklim, tetapi kabar baiknya adalah kita tidak perlu memilih di antara keduanya, kita dapat mengatasi keduanya pada saat yang bersamaan," katanya.

Birol menambahkan bahwa "lonjakan besar-besaran dalam investasi untuk mempercepat transisi energi bersih" adalah "satu-satunya solusi yang bertahan lama."

Birol mengatakan investasi ke energi akan meningkat, tetapi membutuhkan peningkatan yang jauh lebih cepat untuk mengurangi tekanan dari harga bahan bakar fosil yang tinggi. Sehingga krisis energi bisa dikurangi dan mengembalikan dunia ke jalur yang benar dalam mencapai perbaikan iklim.

Investasi Batu Bara Bertumbuh

IEA mencatat ada pertumbuhan investasi di energi fosil, terutama batu bara, yang lebih tinggi pada tahun ini.

Berdasarkan laporan IEA, investasi pada produksi batu bara pada 2022 akan meningkat 10% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Investasi pasokan batubara global diperkirakan akan tumbuh 10% lagi pada tahun 2022 karena pasokan yang terbatas terus menarik proyek-proyek baru," dalam laporannya.

"Dengan nilai lebih dari USD 80 miliar, China dan India diperkirakan akan menjadi bagian terbesar dari investasi batu bara global pada tahun 2022."

Hal ini disebabkan oleh ancaman krisis energi yang melanda dunia. Sejak serangan Rusia ke Ukraina, harga energi jauh lebih tinggi dari apa yang dicapai pada boom komoditas pada 2021.

"Harga yang tinggi mendorong beberapa negara untuk meningkatkan investasi bahan bakar fosil sewaktu mereka berupaya mengamankan dan mendiversifikasi sumber pasokan mereka," dalam laporan tersebut.

Padahal beberapa negara seperti Eropa mulai meninggalkan batu bara sebagai sumber energi. Namun aksi embargo gas dan minyak dari Rusia membuat mereka berpikir ulang untuk kembali menggunakan batu bara.

Jerman, Italia, Austria dan Belanda semuanya mengindikasikan akan kembali menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk mengkompensasi embargo pasokan gas Rusia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Perang Dunia III Meletus, Pasokan Batu Bara Dunia Bisa Kiamat


(ras)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading