Rupiah Makin Dekat Rp 15.000/US$, Emiten Ini Kena Imbasnya

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 June 2022 13:15
Ilustrasi Dolar-Rupiah, Money Changer (CNBC Indonesia/Andrean Krstianto) Foto: Ilustrasi Dolar-Rupiah, Money Changer (CNBC Indonesia/Andrean Krstianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/6/2022), bahkan semakin mendekati Rp 15.000/US$. Jika terus terpuruk beberapa emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa terpapar dampak negatif.

Melansir data Refinitiv, pada pukul 10:00 WIB, rupiah melemah 0,34% ke Rp 14.860/US$, yang merupakan level terlemah sejak Oktober 2020. Sepanjang tahun ini pelemahan rupiah tercatat lebih dari 4%.

Kali terakhir rupiah menyentuh Rp 15.000/US$ pada 8 Mei 2020. Tekanan bagi rupiah berisiko masih akan terus berlanjut hingga mendekati level tersebut. Sebab, bank sentral AS (The Fed) semakin agresif menaikkan suku bunga, sementara Bank Indonesia (BI) sampai saat ini masih enggan mengikuti.


The Fed pada pekan lalu menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, menjadi 1,5% - 1,75%. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak 1994, dan di bulan depan juga berpeluang melakukan hal yang sama. 

Di akhir tahun ini, The Fed memproyeksikan suku bunga berada di kisaran 3.25% - 3,5%. Dengan demikian, seandainya BI tidak menaikkan suku bunga, maka selisih (spread) dengan The Fed akan sangat kecil bahkan sama. BI sampai saat ini masih menahan suku bunganya di rekor terendah 3,5%.

Semakin kecil spread suku bunga, tekanan bagi rupiah akan semakin besar.

Terus merosotnya nilai tukar rupiah tentunya berdampak pada emiten yang memiliki kebutuhan dolar AS tinggi. Salah satunya emiten yang harus melakukan impor bahan baku, maupun produk jadi.

Sektor farmasi misalnya, bahan baku industri ini sekitar 90% harus diimpor dari luar negeri. Hal ini tentunya mengakibatkan membengkaknya biaya produksi.

Emiten farmasi yang melantai di BEI ada yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT Indonesia Farma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan anak usahanya PT Phapros Tbk (PEHA). Kemudian dari swasta ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan beberapa lainnya.

Selain perusahaan farmasi, perusahaan ritel seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) juga dirugikan dengan adanya pelemahan rupiah ini karena produk yang dijual ketiga emiten tersebut merupakan produk impor.

rupi

Emiten yang bisa terdampak negatif lainnya yakni yang memiliki utang dalam bentuk valuta asing (valas). Tahun lalu, banyak emiten yang menerbitkan obligasi valas (global bond).

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) misalnya, yang menerbitkan global bond senilai US$ 1 miliar. Kemudian PT Medco Energi Internasional (MEDC) yang menerbitkan global bond senilai US$ 400 juta.

Ketika nilai tukar rupiah terus merosot, maka beban pembayaran obligasi tersebut akan semakin membengkak.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Takut Perang, Rupiah 'Hajar Balik' Dolar AS


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading