Akhir Pekan Bursa Asia Mixed, Nikkei Drop, Hang Seng Melesat

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
17 June 2022 16:41
People walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Monday, Dec. 2, 2019. Asian stock markets have risen after Chinese factory activity improved ahead of a possible U.S. tariff hike on Chinese imports. Benchmarks in Shanghai, Tokyo and Hong Kong advanced. (AP Photo/Koji Sasahara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik kembali ditutup beragam dengan mayoritas melemah pada perdagangan Jumat (17/6/2022) akhir pekan ini. Investor masih menimbang sikap bank sentral Amerika Serikat (AS) yang menaikan suku bunga secara agresif.

Indeks Nikkei Jepang, ASX 200 Australia, KOSPI Korea Selatan, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada hari ini. Sedangkan sisanya yakni indeks Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite China, dan Straits Times Singapura berakhir di zona hijau.

Indeks Nikkei memimpin koreksi yakni ambruk 1,77% ke posisi 25.963, disusul ASX 200 yang anjlok 1,76% ke 6.474,8, selanjutnya IHSG yang amblas 1,61% ke 6.936,967, dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,43% ke 2.440,93.


Sedangkan untuk indeks Hang Seng ditutup melonjak 1,1% ke posisi 21.075, Shanghai melesat 0,96% ke 3.316,79, dan Straits Times naik tipis 0,02% ke 3.098,09.

Dari Jepang, bank sentral (Bank of Japan/BoJ) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level rendah yakni -0,1%. Hal ini sesuai dengan ekspektasi pasar dalam polling Trading Economics yang memperkirakan BoJ tetap mempertahankan suku bunga acuannya.

Selain mempertahankan suku bunga acuannya, BoJ juga mempertahankan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun di dekat 0%.

Inflasi di Jepang memang sudah mulai menanjak tetapi belum setinggi negara-negara Barat, sehingga BoJ punya ruang mempertahankan suku bunga rendah lebih lama.

Tetapi, masalah muncul dari nilai tukar yen yang terus merosot akibat selisih suku bunga dengan Amerika Serikat (AS) yang semakin melebar.

"Ada spekulasi BoJ akan merubah kebijakannya guna meredam pergerakan yen, tetapi jawabannya tidak," kata Shotaro Kugo, ekonom di Daiwa Institute Reserch, sebagaimana dilansir Reuters.

Alhasil, nilai tukar yen kembali merosot 1,5% ke JPY 134,13/US$ pada pukul 13:00 WIB di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sepanjang tahun ini, yen sudah jeblok lebih dari 16%.

Merosotnya yen bisa berdampak buruk bagi perekonomian Jepang, inflasi bisa meroket yang pada akhirnya memukul konsumsi rumah tangga. Produk domestik bruto (PDB) terancam merosot, resesi kembali membayangi meski suku bunga rendah masih dipertahankan.

Oleh karena itu, BoJ menyatakan akan memperhatikan pergerakan yen. "Kami akan memperhatikan dengan seksama dampak dari pergerakan nilai tukar ke perekonomian," tulis BoJ dalam keterangan resminya.

Inflasi inti di Jepang saat ini mencapai 2,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Apri lalu, sudah mencapai target BoJ sebesar 2%. Namun kenaikan tersebut terjadi akibat tingginya biaya (cost push), bukan berdasarkan peningkatan permintaan (demand pull) yang berasal dari peningkatan upah pekerja.

Di lain sisi, bursa saham Asia-Pasifik yang secara mayoritas melemah terjadi setelah bursa saham AS, Wall Street kembali terkoreksi parah pada Kamis kemarin waktu AS.

Indeks Dow Jones ditutup ambruk 2,42%, S&P 500 anjlok 3,25%, dan Nasdaq longsor 4,08%.

Investor khawatir bahwa langkah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang secara agresif menaikan suku bunganya dapat diikuti oleh bank sentral lain di seluruh dunia, terutama di Uni Eropa.

Investor juga cenderung khawatir terhadap tindakan The Fed yang agresif untuk meredam inflasi dan akan membawa ekonomi AS ke jurang resesi.

"Saatnya keluar dari dunia artifisial yakni injeksi likuiditas masif yang terprediksi di mana semua orang terbiasa dengan suku bunga acuan nol, di mana kita bisa bertingkah dengan berinvestasi sebagian di pasar yang tak seharusnya menjadi tujuan investasi," tutur Kepala Penasihat Investasi Allianz Mohamed El-Erian kepada CNBC International.

Investor pun mempertanyakan apakah The Fed dapat melakukan 'soft landing' tanpa mendorong ekonomi AS ke jurang resesi.

Di lain sisi, sejumlah data ekonomi di AS yang telah dirilis pada pekan ini menunjukkan tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.

Sebagai contoh, data perumahan AS yang menunjukkan perlambatan secara bulanan di 14,4% per Mei lalu, kontraksi pada produksi manufaktur di wilayah Philadelphia, dan klaim pengangguran secara mingguan naik dan melampaui ekspektasi pasar.

Tidak hanya itu, angka kepercayaan konsumen di AS menyentuh titik terendah sepanjang sejarah, belanja ritel turun di tengah harga produk dan barang melonjak, dan juga inflasi yang menyentuh rekor tertinggi selama 41 tahun.

Akibatnya, sentimen pasar menjadi suram dan berubah menjadi negatif hingga mengerek turun bursa saham Wall Street kemarin.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Ditutup Memerah, Hanya STI-IHSG yang Selamat!


(chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading