Adu Kuat Emiten Telekomunikasi, Siapa Juaranya?

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
16 June 2022 15:45
Warga membeli kartu perdana di ITC ROXY MAS, Jakarta, Selasa (2/2/2021). Aturan pajak penyelenggara jasa telekomunikasi mulai di berlakukan namun aturan itu tidak terdampak pada pembelian pulsa, kartu perdana atau token listrik. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) 
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, ketentuan pajak pulsa yang mulai berlaku (1/2/2021) bertujuan menyederhanakan pengenaan PPN dan PPH atas pulsa atau kartu perdana, token listrik dan voucer serta untuk memberikan kepstian hukum.   (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masifnya adaptasi teknologi dan penetrasi digital membuat jumlah pengguna internet di Indonesia semakin hari semakin bertambah banyak. Hal tersebut menjadi kabar baik bagi emiten telekomunikasi penyedia layanan operator seluler Tanah Air.

Saat ini terdapat empat emiten besar yang menjadi pemain utama di sektor telekomunikasi. Pertama ada emiten pelat merah Telkom Indonesia (TLKM), kedua emiten yang baru merger dengan operator seluler lain, Indosat (ISAT). Selanjutnya ada XL Axiata (EXCL) dan terakhir emiten dari Grup Sinarmas Smartfren Telecom (FREN).

Lalau bagaimana kinerja keuangan emiten telekomunikasi tersebut untuk kuartal pertama 2022?


Pendapatan

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2022 yang diterbitkan masing-masing emiten, secara agregat pendapatan keempat emiten tersebut tumbuh lebih dari 10%, tanpa ada satu pun emiten yang mengalami kontraksi dari segi top line.

Emiten dengan pertumbuhan pendapatan tertinggi adalah ISAT yang didorong oleh kinerja gabungan pasca merger dengan PT Hutchison 3 Indonesia (H3I) atau Tri Indonesia. Pendapatan ISAT loncat 55% pada kuartal pertama 2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara spesifik peningkatan tertinggi dicatatkan dari data seluler yang mana pasca merger jumlah pengguna nyaris mencapai 95 juta pelanggan, meningkat 50%.

Sementara emiten dengan pertumbuhan terkecil adalah TLKM, meskipun perlu dicatat bahwa bisnis perusahaan tidak eksklusif hanya di sektor layanan operator seluler. Alasan tersebut pada akhirnya membantu TLKM mencatatkan nilai pendapatan tertinggi secara nominal yang mencapai Rp 35,21 triliun atau nyaris empat kali besaran pendapatan ISAT yang secara nominal berada di posisi kedua.

Jika melihat dari pendapatan sektor layanan operator seluler saja, TLKM membukukan pendapatan Rp 20,39 triliun atau sekitar 58% total pendapatan perusahaan, dengan sektor konsumer yang ditopang oleh Indihome berada di pos kedua terbesar, namun besarnya masih kurang dari sepertiga pendapatan segmen mobile yang disebutkan di awal.

Adapun dua emiten lain yakni EXCL dan FREN juga mencatatkan kinerja yang cukup positif dengan yang terakhir di sebutkan mampu tumbuh dua digit.

Laba Bersih

Emiten penyedia layanan seluler memang merupakan salah satu sektor yang hampir selalu melaporkan kinerja positif dari sisi bottom line karena pendapatan berulang yang relatif sangat aman, apalagi jika loyalitas konsumen tinggi.

Akan tetapi pada kuartal I-2022 terdapat dua emiten yang laba bersihnya berkurang. Secara total keempat emiten masih mencatatkan pertumbuhan laba agregat naik tipis 4,93% terbantu oleh perbaikan bottom line FREN yang berhasil membukukan laba dari semua rugi besar pada kuartal yang sama tahun lalu.

EXCL mencatatkan penurunan kinerja terdalam, dengan laba bersih tercatat turun lebih dari setengahnya akibat meningkatnya beban pokok dan beban keuangan lainnya. Selanjutnya ada ISAT yang labanya ikut terpangkas terpangkas seperempat.

Meski mampu memompa pendapatan, tampaknya merger yang masih berada di tahap awal integrasi membuat kinerja laba ISAT masih belum maksimal di tiga bulan pertama tahun ini.

Jika EXCL dan ISAT mencatatkan penurunan laba bersih, FREN malah mampu membalikkan keadaan dari rugi ratusan miliar, menjadi untung, meskipun nilai keuntungan tersebut merupakan yang terkecil di antara emiten telco lainnya.

Perbaikan kinerja FREN terjadi karena perusahaan mampu meningkatkan pendapatan dan secara bersamaan menurunkan porsi beban pokok yang pada kuartal I-2021 nilainya lebih besar dari pendapatan perusahaan.

Kinerja Saham

Hingga penutupan perdagangan kemarin hanya ISAT yang tercatat mengalami kenaikan harga saham secara year-to-date, dengan TLKM berada di dekat ambang batas pengembalian positif.

Sementara dua emiten lain, yakni FREN dan EXCL masih terkoreksi dengan yang disebutkan terakhir sahamnya telah turun lebih dari 20% tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mantap! Laba AKR Kuartal I Tumbuh 40%, Pendapatan Terbang 98%


(fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading