Ikutan Wall Street, Bursa Asia Dibuka Loyo, Kecuali Hang Seng

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
09 June 2022 08:45
A man is reflected on an electronic board showing a graph analyzing recent change of Nikkei stock index outside a brokerage in Tokyo, Japan, January 7, 2019. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Kamis (9/6/2022), menyusul koreksinya kembali bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu kemarin waktu setempat.

Hanya indeks Hang Seng Hong Kong yang dibuka di zona hijau pada hari ini, yakni menguat 0,41%.

Sedangkan sisanya dibuka di zona merah. Indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,16%, Shanghai Composite China turun 0,13%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,22%, ASX 200 Australia terpangkas 0,15%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,28%.


Dari China, data neraca perdagangan sekaligus data ekspor-impor pada periode Mei 2022 akan dirilis pada hari ini pukul 11:00 waktu setempat atau pukul 10:00 WIB.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah terjadi di tengah koreksinya kembali bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Rabu kemarin waktu setempat.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 0,81% ke posisi 32.910,898, S&P 500 ambles 1,08% ke 4.115,77, dan Nasdaq Composite melemah 0,73% menjadi 12.086,27.

Koreksi di Wall Street kembali terjadi akibat perlambatan saham-saham teknologi. Maklum, sebelumnya saham-saham ini sudah naik lumayan tinggi.

Saham Amazon, misalnya. Selama periode 24 Mei-7 Juni, harga saham perusahaan besutan Jeffrey 'Jeff' Bezos ini melonjak 18,15%. Pada penutupan perdagangan Rabu kemarin, harga saham berkode AMZN tersebut anjlok lebih dari 1,5%.

Selain itu, investor juga mencemaskan perkembangan harga minyak. Pada pukul 00:37 WIB, harga minyak jenis brent berada di US$ 123,87 per barel. Melonjak 2,74% dan menjadi yang tertinggi sejak 8 Maret.

Sementara yang jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) harganya US$ 122,65 per barel. Melejit 2,71% sekaligus jadi rekor tertinggi juga sejak 8 Maret.

Harga minyak yang semakin mahal akan membuat harga BBM di Negeri Paman Sam ikut terdongkrak. Pada Senin awal pekan ini, rata-rata harga BBM reguler di AS tercatat US$ 4,87 per galon. Ini adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah.

"Investor terus menggaungkan narasi inflasi setiap kali harga energi naik," ujar Thomas Hayes, Managing Member di Great Hill Capital LLC yang berbasis di New York (AS), seperti dikutip dari Reuters.

Saat harga BBM makin mahal, maka konsumsi tentu akan tergerus. Padahal konsumsi adalah motor utama perekonomian Negeri Paman Sam.

Oleh karena itu, perlambatan ekonomi di AS sepertinya sulit dihindari. Bank Dunia (World Bank) dalam laporan Global Economic Prospect edisi Juni memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada 2022 tumbuh 2,5%. Turun 1,2 poin persentase dibandingkan proyeksi Januari dan jauh melambat ketimbang 2021 yang tumbuh di atas 5%.

"Ada risiko yang nyata tentang kenaikan harga energi lebih dari yang diperkirakan. Sebelumnya, kenaikan harga minyak terjadi saat sumber energi lainnya seperti batu bara dan gas alam melimpah. Sekarang harga seluruh bahan bakar fosil naik sehingga kemungkinan beralih ke sumber energi lain menjadi terbatas," sebut laporan Bank Dunia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Merah, Nikkei-Hang Seng Ambles 1% Lebih


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading