Diborong Investor, Yield Obligasi RI Turun Berjamaah

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
30 May 2022 20:15
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup kompak menguat pada perdagangan Senin (30/5/2022) awal pekan ini, di tengah ekspektasi pasar bahwa inflasi di Amerika Serikat (AS) akan terus melandai.

Investor kompak memburu SBN pada hari ini, ditandai dengan melemahnya imbal hasil (yield) di seluruh tenor SBN acuan.

Melansir data dari Refinitiv, SBN tenor 3 tahun menjadi yang paling besar penurunan yield-nya pada hari ini, yakni melemah 36,6 basis poin (bp) ke level 4,908%.


Sedangkan SBN berjatuh tempo 25 tahun menjadi yang paling kecil penurunan yield-nya pada hari ini, yakni turun 0,3 bp ke level 7,559%.

Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun juga melemah 7,6 bp ke level 7,065% pada perdagangan hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Investor global dalam beberapa hari terakhir cenderung optimis setelah inflasi di Amerika Serikat (AS) dilaporkan melambat. Hal ini dapat ditandai dengan cerahnya pasar saham global.

Tak hanya di saham saja, pasar kripto juga mengalami pemulihan pada hari ini, meski masih dibayang-bayangi oleh aksi jual investor.

Sebelumnya pada Jumat pekan lalu waktu AS, indeks belanja konsumsi perorangan (personal consumption expenditure/PCE) AS tumbuh 4,9% per April 2022, atau melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 5,2%.

Indeks PCE menjadi acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menentukan langkah moneter mereka selanjutnya. Jika inflasi terkendali, maka langkah agresif penaikan suku bunga AS bisa dihindari dan membantu mengurangi tekanan atas saham teknologi.

Optimisme akan perlandaian inflasi tersebut memicu pelemahan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun-yang menjadi acuan pasar, ke bawah level 2,75% dari posisi tertinggi sepanjang tahun ini di angka 3%.

Meski demikian, pelaku pasar masih menimbang-nimbang prospek keberlanjutan cerahnya aset berisiko global, yakni pasar saham dan pasar kripto untuk melihat apakah koreksi yang terjadi sudah menyentuh dasarnya ataukah masih berlanjut.

Pasalnya, situasi global masih dicekam ketidakpastian akibat perang Rusia-Ukraina yang masih terjadi hingga kini dan belum ada tanda-tanda akan damai.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Investor Abaikan Konflik Rusia-Ukraina, Yield SBN Menguat


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading