Bursa Asia Dibuka Beragam, Shanghai-STI Galau Nih

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
25 May 2022 08:42
People walk past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, July 10, 2019. Asian shares were mostly higher Wednesday in cautious trading ahead of closely watched congressional testimony by the U.S. Federal Reserve chairman. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung bervariasi dengan mayoritas menguat pada perdagangan Rabu (25/5/2022), di tengah masih terjadinya aksi jual investor di pasar saham global, utamanya yang terjadi di saham-saham teknologi.

Indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,17% dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,15%.

Sedangkan indeks ASX 200 Australia menguat 0,14% dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,49%.


Sementara untuk indeks Shanghai Composite China dan Straits Times Singapura (STI) cenderung 'galau'. Shanghai dibuka turun tipis 0,02%, namun beberapa detik saja, Shanghai langsung menguat tipis 0,16%.

Hal sama juga terjadi di STI, yang dibuka melemah tipis 0,01% dan selang beberapa detik saja langsung naik tipis 0,02%.

Cenderung beragamnya bursa Asia-Pasifik dan galau-nya Shanghai dan STI terjadi di tengah tengah masih terjadinya aksi jual investor di pasar saham global, utamanya yang terjadi di saham-saham teknologi. Hal ini membuat dua indeks utama di bursa AS, Wall Street kembali berjatuhan.

Hanya indeks Dow Jones yang ditutup menghijau pada perdagangan kemarin, yakni naik 0,15% ke level 31.928,619. Sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup memerah. S&P 500 merosot 0,81% ke level 3.941,48 dan Nasdaq ambruk 2,35% ke posisi 11.264,45.

Yang membebani investor pada Selasa kemarin adalah peringatan laba dan pendapatan dari perusahaan pemilik media sosial Snap Chat yakni Snap, sehari sebelumnya yang memperburuk sentimen tentang sektor teknologi.

Saham Snap anjlok US$ 9,68, atau 43%, menjadi berakhir di level US$ 12,79 pada hari Selasa karena investor menanggapi komentarnya bahwa lingkungan ekonomi makro telah memburuk kondisi perusahaan lebih dari yang diharapkan.

Kekhawatiran tentang gangguan pada pendapatan iklan Snap memberikan efek domino ke saham teknologi lain yang juga telah terpukul dalam tahun ini. Saham Meta Platforms ambruk 7,6%, sedangkan induk Google yakni Alphabet ambles 5%.

Selain itu, laporan mengecewakan lain menunjukkan penjualan rumah baru di AS tercatat lebih lambat pada bulan April lalu. Hal ini pun semakin memperkeruh suasana.

Sementara itu, data penjualan rumah yang jauh di bawah ekspektasi ekonom tampaknya menjadi tanda lain bahwa kenaikan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sudah memperlambat ekonomi riil.

Kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan di tengah inflasi yang lebih tinggi telah menjadi salah satu katalis yang membuat S&P 500 jatuh hingga 18% dari level tertinggi Januari.

Investor telah mengkhawatirkan apakah S&P 500 akan memasuki wilayah pasar bearish, yang didefinisikan sebagai penurunan setidaknya 20% dari level tertinggi baru-baru ini.

Ketika saham perusahaan teknologi besar ambles dalam, saham yang lebih terikat dengan ekonomi fisik hanya mengalami koreksi tipis atau malah tumbuh positif.

Sektor S&P 500 seperti kebutuhan pokok konsumen, energi, dan real estat bergerak di zona hijau pada akhir perdagangan.

Aksi jual pada hari Selasa di saham teknologi mendorong investor untuk mengoleksi kembali obligasi pemerintah Negeri Paman Sam.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun turun menjadi 2,758% dari 2,857% pada hari Senin. Pergerakan yield berlawanan dengan harga obligasi. Jika yield turun, maka harganya pun naik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Kebakaran! Ada yang Ambles 3%, IHSG Gimana?


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading