Jokowi Buka Keran Ekspor CPO, Saham Emiten CPO Variatif

Market - Putra, CNBC Indonesia
23 May 2022 09:45
FILE PHOTO: Palm oil fruits are pictured at a plantation in Chisec, Guatemala December 19, 2018. REUTERS/Luis Echeverria/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Larangan ekspor minyak sawit (CPO) dan bahan baku minyak goreng resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada hari ini, Senin (23/5/2022).

Kebijakan baru tersebut diumumkan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers virtual pada Jumat (20/5/2022) lalu.

Menurut Airlangga, kebijakan itu ditempuh menindaklanjuti keputusan Presiden Joko Widodo yang membuka kembali ekspor CPO dan turunannya mulai Senin, 23 Mei 2022.


Secara bersamaan dengan dibukanya keran ekspor CPO, pemerintah kembali menerapkan kebijakan wajib pemenuhan kebutuhan domestik (domestic market obligation/DMO) dan harga berlaku domestik (domestic price obligation/DPO) untuk minyak sawit.

Pada perdagangan pagi ini, harga saham-saham emiten CPO cenderung bergerak variatif. Saham PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) memimpin penguatan dengan apresiasi 2,04%.

Kenaikan harga saham juga dialami oleh emiten sawit lain yaitu PT SMART Tbk (SMAR) yang naik 2,04%. Sementara itu emiten sawit yang terafiliasi dengan grup Salim yaitu PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) terpantau menguat 0,35%.

Terakhir emiten sawit yang baru saja melantai PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) naik 1,46%.

Namun beberapa saham emiten sawit lain juga ada yang melemah seperti PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).

Harga saham BWPT saja yang melemah dengan koreksi 2,56%. Sisanya mengalami koreksi tetapi tidak signifikan.

Keputusan pemerintah untuk membuka kembali keran ekspor CPO merespons penurunan harga minyak goreng dan kembalinya suplai di pasaran.

Sebagai informasi, harga 1 liter minyak goreng saat bulan April lalu yang bertepatan dengan momentum puasa Ramadan sempat tembus Rp 25.000.

Untuk diketahui, ekspor sawit dan produk turunannya menyumbang sekitar 12% dari total nilai ekspor Indonesia secara bulanan.

Analis dan ekonom memandang bahwa larangan ekspor akan berdampak pada penurunan nilai ekspor senilai US$ 2 miliar per bulan.

Namun kini keran ekspor telah kembali dibuka. Harga CPO yang masih tinggi akan memberikan keuntungan tidak hanya bagi emiten tetapi juga ekonomi RI.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Investor Cash Out, Wall Street Kebakaran Gan! IHSG Piye?


(trp/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading